Webometrics Ranking, Bagaimana Perguruan Tinggi Menyikapinya ?

yuniawan on Mar 3rd 2008

BEBERAPA waktu lalu, daftar Webometrics Ranking of World Universities edisi Januari 2008 telah diumumkan. Berbeda dari publikasi sebelumnya, kali ini Indonesia berhasil menyertakan 17 perguruan tingginya ke jajaran Top 5000 Universities di seluruh dunia. Artinya, Indonesia mampu meletakkan tiga kursi tambahan dalam repositories ranking milik Cybermetrics Lab yang bermarkas di Spanyol ini.

Tentu hal ini akan memberi setitik harapan bagi peningkatan HDI (human development index) bangsa Indonesia. Mengingat, perguruan tinggi diakui sebagai keluaran terakhir bagi jenjang pendidikan yang ada selama ini. Pendidikan tinggi (higher education), lantas dianggap sebagai puncak kualitas dari education system. Bahkan dalam hal ini, UNESCO juga telah menyebut perguruan tinggi sebagai the top of the education pyramid.

Sadar akan perannya itu, masing-masing perguruan tinggi mulai berlomba untuk mengejar pengakuan. Sampai-sampai, Mendiknas Bambang Sudibyo sempat berujar kepada Presiden RI, bahwa hanya perguruan tinggi berlabel world class universities sajalah yang berhak dikunjungi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dan pengakuan semacam ini, tentu tidak akan datang dengan sendirinya. Institusi pendidikan, akan terus dipantau melalui beberapa indikator penilaian. Oleh karenanya, perguruan tinggi lantas menjadi gemar untuk merujuk pada beberapa publikasi peringkat berlabel world top universities.

Telah Terjadi Benturan

Iklim pendidikan di tanah air, menjadi kian semarak. Namun tanpa disadari, justru menyebabkan terjadinya benturan antara culture shock dan the new spirit of higher education di Indonesia. Akibatnya, institusi pendidikan, tanpa sengaja, mengenyam begitu saja setiap publikasi berlabel top world universities.

Data milik laboratorium Google Trends menyebut, Indonesia muncul sebagai regional terbesar dalam volume pencarian terhadap istilah world rank. Sementara Pakistan juga terditeksi sebagai regional terbesar dalam pencarian world top universities.

Aktivitas yang padat ini, tampaknya berhasil melecut kepedulian stake holder untuk mengetahui perkembangan wakil Indonesia di percaturan dunia. Di sisi lain, insan pendidikan nasional malah terkesan sangat reaktif terhadap setiap perubahan. Padahal, kebanyakan ranking yang dikeluarkan, lebih bersifat relatif. Untuk Webometrics misalnya, terlihat hanya menelurkan posisi perguruan tinggi dalam hirarki peringkat.

Sehingga, pergerakan skor belum juga digunakan oleh pengamat, sebagai alat bantu dalam memberikan kritik. Opini negatif akan bergulir, ketika sebuah perguruan tinggi merasa mendapat perlakukan tidak adil atas keluarnya daftar peringkat tertentu. Sementara perguruan tinggi yang berada di atas, dengan serta merta akan mem-blow up secuil prestasi yang berhasil mereka raih. Ironisnya, insan pendidikan terkadang malah lalai untuk memahami esensi sebuah publikasi peringkat dikeluarkan.

Butuh Pemahaman

Publikasi Webometrics misalnya, merupakan publikasi utama selain THES (Times Higher Education Supplement) dan SJT, yang sering digunakan sebagai acuan bagi perguran tinggi di Indonesia. Daftar peringkat Webometrics, lantas dipandang sebagai output yang menjanjikan, dan mampu membangun wacana pengambil keputusan di bidang pendidikan. Insan pendidikan tinggi pun tergiur, untuk menjadikannya sebagai perkuatan atas prestasi mereka di mata stake holder.

Suatu ketika, setelah Webometrics mengumumkan daftar ranking di awal tahun 2007, beberapa insan pendidikan di tanah air, dengan serta merta berbusung dada. Webometrics seakan muncul sebagai peluang bagi negara berkembang seperti Indonesia dan Pakistan, untuk merasakan nikmatnya disebut sebagai world class university.

Padahal Webometrics sendiri, tidak bermaksud mengukur kualitas pendidikan secara keseluruhan. Namun arahnya lebih pada pemanfaatan Information and Communication Technologies (ICT), melalui keberadaan institutional web domains. Setelahnya, baru ranking akan disusun melewati cybermetric indicators.

Dalam hal ini, Webometrics ingin menilai penggunaan dan pemanfaatan sains dan teknologi yang ada pada perguruan tinggi dunia melalui internet. Pendekatan scientometric, akan mampu merekam perubahan data mine-clearing, knowledge flows measurements, hingga diversity issues.

Sementara melalui bibliometric, akan dijelaskan proses komunikasi tertulis, sifat, serta arah pengembangan sarana deskriptif, penghitungan dan analisis berbagai faset komunikasi. Tentu saja ini melalui pelbagai media komunikasi milik perguruan tinggi. Kumpulan field di dalamnya, kemudian akan ditempatkan berdasarkan pendekatan informetrics.

Optimalisasi Situs

Menilik pemahaman tersebut, keberadaan sebuah web institusi akan berpengaruh besar terhadap repositories ranking yang ada. Setidaknya Webometrics mengaku mendapatkan data perguruan tinggi dunia, juga melalui sumber-sumber di internet, seperti halnya Universities Worldwide, All Universities around the World, Braintrack University Index, dan beberapa yang lain.

Pada akhirnya, sebuah perguran tinggi yang bermimpi untuk duduk di jajaran top world universities, cukup dengan melakukan optimalisasi terhadap keberadaan situs mereka. Saat ini, Webometrics pun terkesan hanya mengamati ranking perguruan tinggi melalui web.

Menurut Aguillo, dkk (2005), web memang telah disebut sebagai medium baru dalam komunikasi akademik dan sains. Karenanya, web indicators juga muncul sebagai indikator penting dalam quantitative analysis of science. Terlebih pada size dan visibility bagi sebuah domain institusi pendidikan.

Data-data yang tersebar dalam search engine, seperti Google, Yahoo, MSN dan Teoma, kemudian dikumpulkan. Dan ketika daftar ranking berhasil disusun, diharapkan akan membantu terciptanya komparasi antara aktivitas dan kinerja perguruan tinggi dunia.

Pengembangan SDM

Masalahnya, perguruan tinggi yang tidak memiliki fakultas teknik, pada akhirnya juga harus bersaing melawan dominasi pakar ICT, yang bisa jadi tertimbun di perguruan tinggi tertentu saja. Sama halnya dengan problem yang menimpa gerakan Go Open Source, Indonesia dipandang belum memiliki sumber daya manusia (SDM) yang sanggup melakukan transfer of knowledge bagi ratusan juta penduduk yang lain.

Selain masalah informasi, tampaknya masalah ekonomi dan budaya juga akan ikut menemani. Latar belakang masyarakat yang sangat beragam, tentu akan cepat melahirkan dimensi masalah yang lain.

Untuk itu, perlu dilakukan self development and motivation, khususnya bagi SDM di bidang ICT. Diharapkan, dengan tumbuhnya SDM bidang ICT, pemerataan akan tercapai, dan pemanfaatan teknologi menjadi kian optimal. Selebihnya, ranking perguruan tinggi di Indonesia pun akan terdongkrak, sesuai dengan esensi masing-masing peringkat.

Dalam hal ini, SDM didorong untuk masuk sebagai supporting infrastructure guna menciptakan lingkungan informasi yang adaptif, sejalan dengan the new function of higher education di mata dunia global. Memanfaatkan ICT untuk mewujudkan pendidikan untuk semua (education for all).

Filed in Top Universities ? |

6 Responses to “Webometrics Ranking, Bagaimana Perguruan Tinggi Menyikapinya ?”

  1. okeyon 30 Jun 2008 at 10:59 pm

    Menurut saya, webometrics ranking ini dapat disederhanakan seperti balapan motor. ICT kampus sebagai motornya, sedang isi tulisan (rich file, scholar dll) adalah ridernya. Jadi meskipun ICTnya sebuah kampus bagus tetapi tidak ada isian tulisan dari orang2 kampusnya, ibarat Ducati (motor bagus) ditunggangi Melandri, selalu buncit. ICT kurang bagus tetapi kaya akan tulisan ilmiah dari orang2 kampusnya, ibarat Yamaha (kecepatan dibawah ducati) ditunggangi Valentino Rossi, bisa meninggalkan jauh melandri. Idealnya, ducati ditunggangi stoner atau lebih-lebih ducati ditunggangi Rossi, akan melesat didepan.
    so, nggak perlu kita mengecilkan webometrics…karena mau nggak mau dunia semakin mengakuinya karena dunia (bukan jawa timur lho) kenal atau nggak kenal kampus kita kayaknya sekarang harus pakai media itu, bukan jawapos yang terus memuji kita karena banyak alumni kita disana.

    Untuk marco melandri saya mohon maaf.

  2. hey youon 04 Jul 2008 at 10:44 am

    Wah menarik jg nih analoginya :)
    memang benar, PT di tanahn air memerlukan pembalap semacam rossi.
    Namun yg terjadi saat ini, PT di Indonesia, masing2 sudah memiliki rossi. Masalahnya, banyak rossi yg belum mengenal potensi yamahanya, dan bagaimana menggunakan yamaha itu utk bisa menjadi juara dan menyalip ducati.
    Di sisi lain, balapan ini hanya untuk menentukan siapa yg tercepat, namun masyarakat lantas memandang bahwa sepeda yg sampai di garis finish, adalah sepeda terbaik dan segala-galanya di dunia.
    Meski tdk menampik, bahwa u/ bisa terdepan hingga finish, kecepatan tdk menjadi satu2nya faktor penentu

  3. samparaon 30 Aug 2008 at 1:02 pm

    Semoga Indonesia telepas dari keterbalakangan ini
    From http://www.sampara.com

  4. hey youon 31 Oct 2008 at 2:13 pm

    ok semoga ya….
    sbnarnya qt ini gk terbelakang kok, cuman kurang optimis aja
    he he he

  5. pmjon 23 May 2010 at 4:10 am

    salam !
    langkah banyaknya kaki yg kecil dapat terkalahkan dengan langkahnya kaki yg panjang .,.
    untuk apa qt melihat kepada negara maju IIUI lo hanya untuk qt jadikan lawan dalam persaingan, pemuda bangsa qt saja masih pecah !
    coba qt satukan pemuda indonesia untuk bersatu maka qt yaqin pasti akan maju ……….

  6. yuniawanon 15 Jun 2010 at 12:38 pm

    yup setuju
    pemuda yg bersatu, bangsanya pasti kuat

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply