Archive for the 'Ujung Telaga' Category

Sekedar Renungan tentang Perlakuan

yuniawan on Dec 27th 2014

Ternyata, sudah sekian lama gak nyentuh blog. Ini merupakan tulisan kedua di tahun 2014 ini, setelah sepuluh bulan yang lalu “terpaksa” menulis tentang letusan gunung Kelud yang hebohnya sampai di Surabaya :) Sayang banget kan, jika peristiwa bersejarah di Surabaya tidak didokumentasikan dengan bijak? Eh..baik :D

Tulisan kedua di tahun ini, berujung pada telaga. Iya, itu sesuai dengan kategori dari tulisan ini yang masuk ke dalam rubrik Ujung Telaga. Mengapa demikian? Kira-kira dulu, dimaksudkan untuk mengumpulkan kisah-kisah yang memiliki hikmah tertentu, dan sekiranya pantas untuk direnungkan :D hehehe :D Tentu saja, itu ditujukan untuk meningkatkan kualitas diri ;) Untuk apa? Iya, tentu saja agar hidup kita menjadi kian manfaat, dan bisa menjadi hamba Alloh SWT yang kian bisa mengoptimalkan bekal dari proses penciptaan yang telah dianugerahkan kepada diri kita. Mengapa telaga? Bayangan saya, air telaga itu jika dibasuhkan ke muka, maka akan menyegarkan. Itu saja :) Iya, sesederhana itu ;) Salah satu contohnya, ada di tulisan ini ;)

Continue Reading »

Filed in Ujung Telaga | No responses yet

Habibie dan Cita Kisah Pesawat Nasional

yuniawan on Mar 7th 2012

Kali ini saya ingin menebar kisah tentang pesawat nasional, bukan lagi mobil nasional seperti yang pernah ditulis sebelumnya. Namun kali ini, saya ingin menebar kisah sebagai renungan bagi kita semua, sesama anak bangsa Indonesia. Terlebih, bahwa kita harus segera sadar dan bangun dari tidur, lantas berteriaklah, bahwa “Kita ini bangsa yang besar. Indonesia bangsa yang berdaulat, dan Nusantara pantas untuk kembali menunjukkan potensi besar untuk kejayaannya!”.

Sebenarnya kisah ini sudah saya baca beberapa waktu yang lalu, namun baru kali ini saya share, karena memang saya kemudian merasa ini adalah suatu yang PENTING bagi anak bangsa Indonesia. Seluruh anak bangsa Indonesia, saya rasa PENTING untuk juga mengetahui tentang hal ini.

Ini kemudian menjadi sesuatu yang PENTING bukan karena saya adalah pengagum Habibie, bukan pula karena saya dulu sempat memendam cita untuk menjadi seorang pilot. Namun, Cita Kisah Pesawat Nasional ini terbilang langka, dan berujung pada nasionalisme yang memang harus segera dibangkitkan, harus segera ditebarkan, harus segera dipanaskan agar kian membara. Jujur, setiap saya membaca kisah ini, mata saya selalu berkaca-kaca, hati saya selalu tersentuh, dan emosi saya selalu butuh saya redam. Hmmmm…

Baiklah, karena saya lupa dulu pertama kali membaca kisah ini di milis yang mana, dan setelah saya cari pun, masih belum menemukan, akhirnya saya justru bertemu di Blog milik sang penulis kisah. Kepada sang penulis, usaha anda untuk menebarluaskan kisah ini, semoga mendapat berkah dari Alloh SWT. aamiin.

Continue Reading »

Filed in Ujung Telaga | 83 responses so far

Pelajaran dari Langit

yuniawan on Mar 6th 2012

Kemarin, Surabaya hujan sangat deras. Bahkan disertai angin kencang. Di beberapa sudut kota, tampak beberapa pohon dan papan reklame sudah berjongkok, tak lagi ada di posisinya. Seakan memberi peringatan bagi makhluk bumi ini, bahwa “aku sudah capek!”.

Kemarin, saya kembali mendapat peringatan kecil dari penguasa langit. Pagi kemarin, saya membolos. Saya mengarahkan tunggangan ke rumah seorang yg hampir berusia 70 thn. Ingatan langsung melayang ke kisah 12 tahun lalu. Tatkala kami, sama-sama ditakdirkan untuk menginjak tempat yang paling dituju oleh penghuni bumi. Tempat berkumpulnya, tangan-tangan yg menengadah ke atas.

Bersama beliau, saya menyusuri keharuan berjalan kaki hingga berkilo-kilo jauhnya. Menghirup aroma berdesak-desakan. Merasakan berpuluh varian antrian. Menikmati hangatnya teh susu. Dan masih banyak lagi. Kesemuanya, membuat kami merasakan nikmatnya bersujud.
Continue Reading »

Filed in Ujung Telaga | No responses yet

Mencari atau Menyongsong Rezeki?

yuniawan on Mar 5th 2012

Beberapa tahun terakhir, saya banyak menjumpai nama mahasiswa yang menyadur dari kata rejeki (Jawa) atau Rezeki (Indonesia-Arab). Namanya sih cukup bervariasi, ada yang bernama Rizky, Rizqy, Riskie, Rizki, Riesky, atau sebutan lain yang senada. Intinya sama. Nama mereka diambil dari ujung kata rezeki, yang bisa berarti uang, harta, makanan, keuntungan, kesempatan, pendapatan, penghidupan, nafkah, atau segala yang diberikan Tuhan untuk memelihara kehidupan kita di dunia ini.

Sebagian besar masyarakat, sudah barang tentu, menafsirkan rezeki ini sebagai uang atau harta benda. Seperti halnya sahutan, “rezeki nomplok“, yang jelas berkonotasi kepada uang ataupun keuntungan harta benda. Anggaplah sangkaan ini sesuai, tentu tidak dapat disalahkan. Mengapa demikian? Karena memang, manusia hidup akan selalu identik dengan usaha-usaha untuk memelihara kehidupannya. Bagaimana kehidupan itu bisa dipelihara? Tentu saja dengan uang, yang karenanya, manusia bisa memiliki kekuatan tukar menukar barang pemuas kebutuhannya. Jadi dalam topik kali ini, rezeki yang akan kita ulas, cenderung bermakna material sebagai uang atau keuntungan harta benda yang kemudian dapat di-uangkan.

Continue Reading »

Filed in Ujung Telaga | No responses yet

Einstein Tak Menemukan Tuhan

yuniawan on Feb 5th 2009

Albert Einstein adalah salah satu sosok pemikir yang sangat dikagumi sekaligus sangat dibenci di pengujung abad 20 dan bahkan hingga kini. Kenapa demikian? Karena selain penemuan-penemuan spektakulernya di bidang sains dan teknonogi yang sulit ditandingi oleh para ilmuan pada masanya, Einstein kerap melancarkan kritik pedas pada gereja dan doktrin-doktrinnya yang dianggap tidak rasional. Menurut Einstein, gereja telah melakukan ”pembodohan massal” dengan konsep ketuhanan yang tidak masuk akal.
Continue Reading »

Filed in Ujung Telaga | No responses yet

Ingin Menjadi Cerdas

yuniawan on Dec 3rd 2008

Mengapa setiap orang tua selalu ingin anaknya menjadi pintar ? Mungkin jawaban sederhananya, agar si anak bisa berbuat lebih banyak atau memiliki peluang lebih baik ketimbang orang tuanya. Seiring perjalanan waktu, sebenarnya orang tua menuntut anaknya untuk tak hanya tampil pintar, namun lebih menjurus cerdas.

Terjemahannya, cerdas lebih ditujukan pada suatu bentuk aplikasi atau terapan, hingga bahkan cenderung tidak terlalu memusingkan keikutsertaan dalam regulasi pendidikan formal. Seseorang dianggap cerdas, jika tanpa belajar di kelas sekalipun, ia mampu mengimbangi kemampuan yang diperoleh siswa lain. Bahkan, sejarah menunjukkan banyak orang besar yang berhasil menelurkan karya agung, meski ia sempat gagal di bangku sekolahnya.
Continue Reading »

Filed in Ujung Telaga | 4 responses so far

Next »