Selamat hari Guru….

yuniawan on Nov 26th 2008

Wah, rupanya kemarin adalah Hari Guru. Hari guru nasional yang ke-63. Selamat deh untuk para Guru sak Indonesia. Harus diakui, saat ini, para guru sudah dapat menikmati beberapa peningkatan kesejahteraan yang dulu sangat mereka dambakan.

Setidaknya, para guru yang lolos sertifikasi, kini berhak mengecap kesejahteraan yang selama ini hanya ada di angan-angan. Bahkan Ketua PGRI Jatim pun mengaku, bahwa nasib guru saat ini jauh lebih baik. Bayangkan, gaji seorang guru PNS untuk 30 tahun lalu hanya berkisar Rp. 18 ribuan. Sementara guru di sekolah swasta mentereng, sudah bisa menikmati gaji lebih dari empat kali lipatnya.

Ironisnya, ketika guru lain berulangtahun, para GTT (guru tidak tetap) malah asyik mengepung DPR, Selasa (25/11) kemarin. Masalahnya, tentu saja berujung pada kesejahteraan dan masa depan mereka. Hingga kini, mereka hanya mendapat honor, tak lebih dari Rp. 450 ribu per bulan. Bahkan konon, masih ada saja guru yang mau dibayar di bawah Rp. 300 ribu per bulan. Jauh di bawah UMR. Apa cukup tuh…?
Meski tidak dapat dibenarkan, karenanya tidak salah juga jika ada guru yang masih sudi mengobyek jualan buku, kaos atau seragam siswa, makelar aneka kebutuhan, sopir, tukang ojek, jualan parfum, atau memberikan les privat. Tak jarang pula, di sela memberikan les privat di rumah, ibu guru mengisinya dengan mengasuh anak atau sekedar memasak di dapur.

Terima Kasih Guruku

Lepas dari itu semua, ada baiknya kita berendah hati untuk memberikan penghormatan atas jasa para guru kita. Ada banyak kenangan yang saya peroleh bersama para guru, yang tentu saja akan sangat bermanfaat bagi tumbuh kembang saya ke depan. Di bangku TK, rupanya saya tidak dapat mengingat sedikitpun profil guru-guru saya. Saya hanya setahun duduk di bangku TK. Yang saya ingat, para guru beberapa kali mengajak saya dan teman-teman untuk sekedar jalan-jalan di sekitar area sekolah.

Meski tak lulus TK, alhamdulillah, akhirnya saya pun dapat melanjutkan pendidikan di bangku SD. Selama enam tahun di sana, tentu ada banyak nama guru yang saya ingat. Ada Bu Lilik, pengajar kelas I yang sangat telaten, Bu Dien, guru senior yang memberikan nilai tinggi di rapor kelas II, Pak Sam (guru sigap kelas III yang juga aktivitas pramuka), pak Mitro (guru olah raga yang juga berjualan bebek), Bu Gultom (guru seni musik yang merdu suaranya), Pak Guntur (guru kelas V yang berdisiplin tinggi). Darinya saya pun ikut merasakan style guru-guru jaman lawas, yang sarat akan kedisiplinan. Kelas VI ada Bu Ratmi, guru yang selalu mampu menguasai kelas, disegani, dan sanggup memberi kesan wibawa kepada setiap murid.

Untuk Kepala Sekolah, saya sempat ada di jaman Bu Widodo yang juga terkenal sangat disiplin. Sementara Bu Alwan, meski lebih kalem, kepemimpinannya juga cukup disegani oleh para guru dan murid. Oh iya, ada guru spesial di Kelas IV. Beliau sempat melempar saya dengan kapur, hanya karena saya tak bisa mengerjakan soal matematika di depan kelas. Beliau dikenal sebagai Bu Siti, yang tak lain adalah perempuan yang melahirkan saya di muka bumi ini. Saat ini, beliau belum pensiun, dan bertugas sebagai Kepala Sekolah di SDN yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumahnya.

Menginjak bangku SMP, saya relatif lupa nama-nama mereka. Sebenarnya masa SMP ini cukup berkesan bagiku, karena mulai mengenal banyak teman dari background yang berbeda. Denger-dengar, saat ini, sekolahku itu adalah sekolah bertaraf internasional yang juga membuka billingual class. Kalau tidak salah, kepala sekolahnya namanya Pak Tohirin. Di SMP, nama yang saya ingat, ada Bu Nunuk guru wali di kelas II F. Itu pun, karena sekarang beliau jadi tetanggaku. Sementara yang lain, saya hanya ingat wajahnya, dan kebiasaan mereka saat mengajar.

Misalnya, di kelas II, ada guru biologi yang sukanya ngomong, ¬®oh tahu gembuk¬®. Itu beliau lontarkan, jika ada siswa yang tak mampu menjawab pertanyaannya. Terus ada juga guru Fisika kelas II yang sempat percaya bahwa argumentasi yang saya sampaikan, bersumber dari dunia dalam berita, sebuah sajian news di TV yang sangat popular waktu itu. Ada juga guru olah raga di kelas III, yang begitu mudah menyanjung skill-ku berolah raga, hanya karena aku memesan jaket kelas kepadanya. Selain itu, ada guru keterampilan kelas III yang dikenal galak. Yang paling spesial, adalah wali di kelas III, namanya Bu Dono. Beliau sangat perhatian terhadap siswa-siswa yang berperilaku khusus. Melalui beliau, saya dipercaya menjadi Ketua Kelas, dan mendapat banyak pelajaran agar mampu berbicara di depan umum. Sungguh, itu adalah gemblengan yang sangat berharga. Terima kasih Bu….

Menginjak bangku SMA, saya pun juga banyak melupakan nama-nama guru favorit. Hanya mungkin saya teringat nama Bu Cipat2 (guru Kimia kelas I), Pak Cahyo (guru Fisika kelas II yang juga Wakasek), pak Pencit (entah mengapa dinamakan demikian, beliau wali kelas III), Bu Umi (guru Biologi kelas II yang cukup pemurung), pak Dargombez (guru matematika jenius yang nyentrik, gila bola dan catur), Bu Pudji (wali kelas I), dan yang paling spesial adalah Bu Made (Wali kelas II yang sempat menunjukku jadi Ketua Kelas di sana). Selain tegas dan disiplin, beliau ini juga dikenal sangat care pada anak didiknya. Dalam bimbingannya, saya pun (dipaksa) mampu menjadi bintang kelas, meski tak harus ada di ranking I.

Karena aku sempat menjadi Ketua OSIS, maka saya pun sedikit ingat nama-nama guru lain seperti Pak Abu (karena dia Wakasek Kesiswaan), Bu Tatik (guru olah raga dan pembina kesiswaan), dan Pak Ibrahim (juga Wakasek). Selain itu, ada juga Pak Pri, penjaga perpus, yang juga banyak membantu para siswa.

Bagaimana saat kuliah ? Tentu masih banyak guru-guru hebat yang belum bisa saya sebutkan satu per satu. Saya rasa, lain kali, mereka juga perlu untuk dilukiskan, hingga merangsang motivasi baru bagi kita. Karena dari sejarah, kita dapat belajar. Selamat berjuang guruku…!! Selamat menikmati hari gur….

Filed in Interest |

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply