Bahrain vs Indonesia: Sepak Bola Politik Sepak Bola

yuniawan on Mar 2nd 2012

Pertandingan Indonesia vs Bahrain 2012 yang berakhir kekalahan memalukan 0-10 ternyata masih menyisakan permasalahan. Simak saja, selain FIFA yang katanya akan melakukan investigasi. Beberapa pengurus PSSI, khususnya koordinator Timnas Merah-Putih, mulai mengungkap sejumlah kejanggalan. Inikah, sepak bola Politik?

Mulai dari kartu merah untuk kiper Indonesia, dua penalti untuk Bahrain, hingga diusirnya pelatih kiper Indonesia dengan tanpa dilengkapi kartu merah. FIFA sendiri, merasa perlu untuk melakukan investigasi, mengingat untuk lolos ke Piala Dunia, Bahrain memang membutuhkan kemenangan besar. Meski akhirnya kandas, akibat keberhasilan Qatar menahaman Iran. Jika Qatar yang sebelumnya diprediksi bisa dikalahkan oleh Iran, lalu kemudian Bahrain mampu memang besar dari Indonesia, maka Bahrain dapat dipastikan bisa melaju ke babak final. Inikah, sepak bola politik Bahrain?

Belum lagi pengakuan dari Bob Hippy selaku koordinator Timnas, yang mengaku sempat mendengar celotehan Pangeran Bahrain tentang kepastian kemenangan Bahrain di atas 8-0, beberapa saat sebelum pertandingan dimulai. Selain itu, kepemimpinan wasit Andre El Haddad juga dituding sebagai biang kekalahan, bersama asisten wasit dan panitia pelaksana pertandingan.

Namun, apapun itu, menurut saya, PSSI tetap harus bertanggung jawab. Terlebih, jangan terlalu mudah untuk menyalahkan pihak lain atas kekalahan yang telah diderita. Mari lakukan introspeksi diri, jejalkan nasionalisme dan hancurkan egoisme kelompok. PSSI bukan milik klub. PSSI juga bukan milik Ketua PSSI atau pengurusnya. Sudahi perselisihan, perjelas dialog tinggalkan perdebatan panjang. Atau memang inikah, Politik dalam sepak bola Indonesia?

Jika PSSI tetap saja seperti ini, bagaimanapun juga, politik tidak akan memihak pada seluruh bangsa Indonesia. Animo penikmat bola yang demikian besar, tidak akan terpuaskan, namun justru akan dimanfaatkan sedemikian rupa. Dan hal ini terbilang wajar, karena khittoh politik, adalah memihak. Dan tentu saja memihak pada kepentingan kelompok tertentu, dan bukan kepentingan suporter Merah Putih secara keseluruhan.

Apa yang harus dilakukan? Satukan pengelolaan liga sepak bola nasional! Saling tegur sapa, lakukan silaturrahim, perbanyak mendengar dan sedikit bicara, penuhi azas keadilan, dan tanggalkan kepentingan kelompok. Jika itu tidak berhasil, segera gelar Kongres Darurat atau apapun namanya, pilih Ketua PSSI yang baru. Sebelum itu, kedua kelompok harus menandatangani pakta integritas, bahwa akan mengikuti kebijakan dan arahan dari siapapun dia, Ketua PSSI baru nanti, yang akan dipilih bersama melalui Kongres Darurat. Ketua Baru memang harus terlegitimasi. Siapapun dia, silakan mendaftar sebagai Ketua PSSI. Bagi peserta kongres, sebutkan pula konsekuensi yang akan diperoleh, jika ingkar terhadap kepemimpinan Ketua baru.

Memang tidak semudah yang dirancang, namun percayalah jika berjalan untuk kepentingan rakyat, maka ia akan dicintai rakyat. Namun jika berjuang untuk kepentingan kelompok, maka bersiaplah menunggu waktu, suatu saat ia juga akan dikhianati atau bahkan disakiti oleh kelompoknya.

Bravo Timnas Indonesia :-bd

Filed in Interest |

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply