Timnas Indonesia kembali Gagal Juara

yuniawan on Mar 10th 2012

“Ya Tuhan! Apakah dosa sepak bola negara ini begitu besar? Maafkanlah dosan-dosa itu, demi kebahagiaan rakyat yang gila bola ini”, demikian ujar Jacksen F Tiago, mantan pemain dan pelatih Persebaya, sesaat setelah Timnas Indonesia dikalahkan¬† Brunai 0-2 kemarin malam.

Tentu saja, ungkapan Jacksen di twitter-nya itu kemudian memantik perasaan senada yang tumbuh dari dalam hati. Bagaimana tidak, sudah tiga kali ini, timnas Indonesia, tidak mampu meraih juara. Setelah dikalahkan Malaysia di ajang piala AFF dan Sea Games, kini timnas kembali dikalahkan Brunai yang notabene masih beberapa level di bawah Indonesia. Sebelumnya, bahkan timnas Indonesia sempat dipermalukan 0-10 oleh Bahrain di ajang pra piala dunia.

Namun ini memang pelajaran menarik, manakala melihat permainan timnas Indonesia kemarin. Di awal pertandingan, timnas tampil bagus dan menyerang. Bahkan, mampu menguasai setengah lapangan bola. Terlihat hanya di menit akhir babak pertama saja, Brunai mulai lepas dari tekanan Indonesia. Di lain pihak, pemain timnas Brunai tampak masih kalah kualitas. Beberapa kali mereka masih tidak mampu menutupi skill bola yang rendah, hingga bahkan kiper Brunai sempat melakukan kesalahan dalam menangkap bola. Pada babak pertama, bisa dikatakan Indonesia kurang beruntung, sehingga tidak mampu menjebol gawang Brunai Darussalam.

Demikian pula di ajang AFF dan Sea Games baru lalu, Indonesia begitu perkasa di babak penyisihan, namun kemudian mengalami anti klimaks saat sudah menyentuh babak final. Kegagalan beruntun menjadi juara, kemudian membuat saya untuk menyentuh faktor non teknis, ketimbang harus bersentuhan dengan faktor teknis yang sebenarnya dapat segera dibenahi. Tidak perlu jauh ke Italia atau Uruguay, kita cukup melihat PSSI-nya Brunai dalam mengubah cara bermain timnas mereka sedemikian rupa, hingga berhasil menjadi juara. Padahal, karena penduduknya sedikit, pelatih Brunai tidak punya cukup pilihan untuk membentuk tim yang kuat dari bakat-bakat yang menonjol.

Tapi mengapa mereka berhasil? dan Indonesia tidak? Kembali pada pernyataan Jacksen Tiago, sepertinya saya pun menjadi sependapat. Sejak Indonesia tertinggal 0-1, batin ini mulai berprasangka,”Dosa apa yang membuat timnas Indonesia menjadi kalah begini? Hmmmm…!” Bahkan, ketika waktu bersandar pada menit ke-82, saya sudah dapat memastikan bahwa kali ini timnas Indonesia akan kembali gagal juara.

Setelah beberapa saat tercenung, saya pun beranjak mengambil kesimpulan bahwa pemimpin Indonesia ini tidak “tulus” terhadap kemajuan sepak bola Indonesia. Mereka, entah itu pimpinan PSSI, pimpinan pemerintah, ataupun pimpinan Ormas dan Partai Politik, selalu saja memiliki agenda dan kepentingan masing-masing, saat bersentuhan dengan pengelolaan sepak bola Indonesia. Bahkan sudah mendarah daging, berlagak senada, mulai dari pusat hingga daerah.

Simak saja, kondisi PSSI yang sarat kepentingan dan tak jua bisa berhenti dari istilah carut-marut. Masing-masing, entah itu pengurus baru, pengurus lama, bahkan pengurus klub sekalipun, kesemuanya tentu saja hanya mementingkan agenda masing-masing. Kalau tidak berkutat pada kekuasaan, uang, pasti ya agenda politik tertentu. Jika demikian, dan atau sengaja demikian, maka sepak bola Indonesia, pasti akan mengalami kesulitan untuk mencari pemimpin yang tulus. Pantas saja, Rahmad Darmawan sebagai pelatih, kemudian memutuskan mundur, tatkala timnas berada pada kondisi terbaik.

Jika masih belum sependapat, mari kita ingat-ingat lagi kejadian sebelumnya. Saat timnas AFF menyentuh tahap lebih tinggi, ada saja jadwal non teknis, semisal pengajian bersama, press interview, dan beberapa agenda lain yang sungguh sarat akan kepentingan. Belum lagi pernyataan Nurdin Halid waktu itu, yang bersikap menurunkan harga tiket pertandingan, namun bukan atas instruksi SBY, tetapi hanya karena himbauan dari bang Ical.

Lalu masih ada kisruh Kongres PSSI untuk menjatuhkan Nurdin. Kemudian dilanjutkan, dengan parade gagalnya Arifin Panigoro dan Ryamizard sebagai calon Ketua PSSI. Lalu ada kisruh PSSI Djohar Arifin versus Klub non liga PSSI, serta serentetan peristiwa lain, yang terus berujung pada ketidaktulusan mereka dalam memimpin sepak bola Indonesia. Mengapa mereka tidak tulus? Ya karena memiliki agenda dan kepentingan khusus. Mengapa ada kepentingan itu? Ya karena, tentu saja mereka ada di pihak atau kelompok tertentu, yang telah menjanjikan sesuatu kepadanya. Sesuatu yang menggiurkan yang dijarah dari animo sepak bola dari sebuah negeri yang rakyatnya selalu gila bola ini.

Karena rakyatnya gila bola, tentu saja potensi animo dan distribusi masal yang menyeruak, dapat memantik geliat nakal, yang sudah pasti tidak tulus, untuk bisa selalu mengelolanya. Siapa pun pengelola sepak bola Indonesia, jika sukses, tentu saja dapat berbuat apapun, dan bagaimanapun untuk kepentingan mereka. Atau tidak perlu menunggu hingga juara sekalipun, pimpinan PSSI sudah pasti dapat berbuat banyak untuk memenuhi agenda kelompok masing-masing.

Siapapun itu, yang mampu memanjakan dahaga sepak bola Indonesia, pasti akan diangkat menjadi Raja di negeri antah berantah ini. Karena apa? Karena memang itulah Indonesia. Negara kuat dan kaya, yang karena himpitan kemiskinan dan kesulitan, terpaksa mencari kesenangan lain lewat pintu kejayaan sepak bolanya. Karena hanya bola yang sanggup menemani duplikasi “kesenangan” kaum elit. “Kemewahan” pertandingan bola, juga mampu mewakili kemewahan kaum borjuis.

Demikianlah, akibat kepemimpinan yang tidak tulus, maka mereka pasti tidak amanah. Ketika tidak amanah, pasti Alloh (raja sekalian alam) tidak akan rela melihat mereka mendapat keuntungan dari ketidaktulusannya itu. Sementara ketidaktulusan, adalah cermin dari kemunafikan. Dan kemunafikan, adalah penyakit masyarakat. Geloranya, sanggup membunuh kejujuran yang tersisa.

Namun bagi kaum munafik, justru kejujuran-lah yang telah diposisikan sebagai penyakit elit. Padahal, hanya kejujuran-lah kekayaan yang tersisa dari batin rakyat kecil. Bagi rakyat, kemunafikan adalah pengingkaran terhadap kuasa Tuhan. Kemunafikan, kemudian dinobatkan sebagai penyakit yang harus dilawan. Penyandang sakit munafik, seyogyanya tidak patut dipuja. Terlebih ia juga tidak patut untuk dijadikan raja. Bahkan harusnya, segera dijauhi rakyat, yang notabene sekarang adalah para raja penggemar bola.

Intinya, ketidaktulusan pemimpin sepak bola Indonesia, dengan serta merta akan membuat Raja Semesta Alam pun tak rela, jika kemudian rakyat harus kembali dibodohi dan dirampok animonya. Animo yang tulus dan lugu dari rakyat Indonesia, mungkin bisa jadi telah dianggap tidak sebanding, jika harus ditukar dengan gelar juara timnas Indonesia yang mungkin juga tengah dipersiapkan sebagai martil, guna memenuhi agenda kelompok tertentu.

Logika sederhana ini, memang belum cukup untuk menjelaskan misteri kegagalan timnas Indonesia dalam meraih gelar juara. Namun akhirnya, saya kembali bersandar dan menutup dengan harap dan doa, semoga Alloh SWT dapat membantu rakyat Indonesia, agar meletakkan pimpinan yang tulus, yang amanah, bagi kemajuan sepak bola Indonesia. Menganugerahkan, sedikit kebahagiaan melalui sepak bola, bagi rakyat-rakyat kecil yang tertindas. Memberikan senyum dan tawa lepas bagi hambanya yang taat, tulus, dan gila bola. Aamiin.

Bravo Sepak Bola Indonesia. Indonesia Pasti Bisa. Indonesia Pasti Juara. Tetap Semangat !!!

Filed in Interest |

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply