Masa Depan Pendidikan Indonesia

yuniawan on Dec 3rd 2015

Setelah sekian lama cukup “produktif” di dunia blogger :D kini di akhir tahun 2015 ini, kita orang ingin kembali menulis. Bayangin saja, selama 2014 kita orang mampu menulis 3 kali saja. Dan hingga tulisan ini belum selesai ditulis, kini masih menulis 2 coretan saja di tahun 2015 :D

Okay. Saya berharap, mulai saat ini coba menulis hal yang sederhana saja, dimulai dari kejadian kecil di sekitar kita, dan menuliskan apa yang terlintas di otak saja. Tidak perlu terlalu serius, atau menyandarkan pada teori yang di atas awan, namun cukup menulis apa yang ada di dalam lokal otak saja :D Semoga tetap mampu membawa manfaat :)

Kali ini saya teringat, dengan masa SD dulu, dimana kondisi saat ini pun, rupanya belum terlalu jauh berbeda. Bahkan, menurut saya, anak SD saat ini jauh lebih stress, mengingat tuntutan konten pelajaran dan apresiasi nilai yang dihujamkan ke arah mereka, jauh lebih tajam. Mereka kurang bermain, namun memperoleh beban yang jauh lebih berat.

Sekolah SD

Namun, apakah kita pernah berpikir, bahwa tuntutan nilai bagus kepada mereka, akan sejalan dengan kebutuhan bangsa ini? Apakah bangsa ini lebih membutuhkan banyak orang pintar, ataukah banyak orang jujur? Pemimpin yang intelek, ataukah pemimpin yang amanah? Nah, lantas ke manakah masa depan pendidikan Indonesia? Bagaimana masa depan pendidikan anak bangsa?

Menurut saya, pendidikan bicara soal pewarisan nilai. Mengajarkan soal hal-hal baik, kepada siswanya. Pendidikan sementara ini, saya asumsikan sebagai sekolah. Mari kita berselancar dan membicarakan perihal produk sekolah anak bangsa ini.

Kerap kali, kita sebagai orang tua “memaksa” anak untuk rajin belajar, agar mendapat angka atau nilai raport yang tinggi. Anak kita paksa untuk mendapat angka bagus di semua bidang ajar. Padahal, kita pun, dulu, pasti pernah punya rasa muak, untuk pelajaran tertentu. Di sisi lain, juga pasti punya pelajaran favorit, atau juga guru favorit. Artinya, semua anak, pasti punya kecerdasan atau keunggulan masing-masing. Secara sederhana, tidak ada juara dunia tinju yang juga menjadi pemain terbaik sepak bola dunia ;)  
Sadarkah kita, bahwa apa yang kita pilih, dengan menyandarkan apresiasi penilaian keberhasilan sekolah, berdasarkan nilai atau angka, adalah kesalahan fatal? Kita dan lingkungan sekitar kerap berbangga diri, manakala anak mendapat angka 8 pada pelajaran matematikanya, ketimbang menghargai proses ia memperoleh angka tersebut. Perolehan angka 6 untuk matpel matematika, tentu jauh lebih bermartabat ketika diperoleh dengan belajar keras, ketimbang perolehan angka 8 yang didapat dari hasil mencontek.

Sudahkah kita, demikian? Tidak bisa dipungkiri, bahwa orang tua akan lebih senang dipuja tetangga kanan kiri, manakala sang anak menjadi juara kelas, meski sebenarnya diperoleh dengan cara yang tidak jujur.

Mari kita simak, profil outcome pendidikan bangsa ini di masa lampau. Mari kita merujuk pada mereka yang memiliki nilai tinggi dan kecerdasan yang telah dilegitimasi oleh standar angka-angka. Coba kita tengok profi Prof. Dr. Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S., seorang akademisi yang memperoleh gelar kesarjanaan ITB dan melanjutkan studi tingkat doktoral di Jerman dari Technische Universität Clausthal, Jerman. Masuk di ITB, tentu harus memiliki angka raport yang aduhai, sehingga semua orang harus terlebih dahulu memberi stempel pandai, atau cerdas ;)

Pak Rudi

Bahkan sekembali dari Jerman, pak Rudi bekerja sebagai dosen di ITB dan sempat terpilih menjadi dosen teladan pada tahun 1994 dan 1998. Tentu, alat ukurnya tidak sembarangan, bagi mereka yang lolos menjadi dosen. Apalagi di ITB. Tentu pak Rudi muda, memiliki IPK yang sanggup membuat teman seangkatan ngiri :D Terlebih, kemudian pak Rudi berhasil menjadi dosen teladan. Sekali lagi, teladan!

Tidak hanya dunia kampus yang mengakui, bahkan negara pun, mengelu-elukannya dengan menjadikan beliau sebagai Wakil Menteri ESDM (Juni 2012) dan sebagai Kepala SKK Migas (Januari -Agustus 2013). Namun, kemudian apa yang terjadi pada beliau yang berpendidikan tinggi dan cerdas kelahiran Tasikmalaya ini?

Pada 13 Agustus 2013, ia tersangkut masalah korupsi setelah tertangkap tangan sedang melakukan transaksi dengan seseorang bernama Simon di rumahnya. Transaksi itu diduga sebagai upaya penyuapan oleh perusahaan minyak asing Kernell Oil. Akhirnya pak Rudi ditetapkan menjadi tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pada ujungnya Profesor kebanggan ITB yang satu ini, berujung pada vonis pidana 7 tahun, dikurangi masa tahanan, dengan denda sebesar Rp. 200 juta subsider tiga bulan kurungan.

Belum cukup, membuat kita sadar? Baiklah, mari kita beralih kepada Prof. Dr. Miranda Goeltom S.E., M.B.A.  Bu Miranda, menyelesaikan gelar sarjananya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Kemudian meraih gelar Master Ekonomi Politik di Boston University, Amerika Serikat dan merengkuh gelar Ph.D di universitas yang sama.

Bu Miranda

Miranda Goeltom tentu anak yang cerdas dengan nilai raport yang wow di jamannya. Mengawali karirnya sebagai dosen UI pada tahun 1973 ia pun berhasil menjadi Profesor di FE UI. Miranda Goeltom pernah menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (1997), Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (2004), dan sempat mengikuti pemilihan Gubernur Bank Indonesia di tahun 2003, namun kalah.

Selama menjabat sebagai Deputi gubernur senior Bank Indonesia, Bu Miranda pun dicurigai telah melakukan suap terhadap anggota Komisi Keuangan DPR dengan memberikan cek pelawat senilai Rp. 24 miliar. Hal ini dilakukan sosialita kelahiran Jakarta ini, atas kemenangannya sebagai Deputi gubernur senior Bank Indonesia pada tahun 1999 hingga tahun 2004. Artinya, ibu energik ini, sengaja menyuap dalam meraih jabatannya.

Pada ujungnya Profesor yang hebat ini, diganjar pidana penjara tiga tahun. Ada fakta hukum yang membuktikan ada rangkaian perbuatan terdakwa dengan pemberian travel cheque ke anggota DPR sampai terpilihnya terdakwa menjadi Deputi Gubernur Senior BI. Putusan tersebut diambil dengan suara bulat, tanpa dissenting opinion atau pendapat berbeda. Menurut majelis hakim Pengadilan Tipikor, Miranda terbukti bersama-sama Nunun Nurbaeti menyuap anggota DPR periode 1999-2004 untuk memuluskan langkahnya menjadi Deputi Gubernur Senior BI pada tahun 2004.

Nah, apakah dengan 2 contoh tersebut, kita masih memompa anak untuk meraih nilai tinggi di raport? Sementara, ada hal penting lain yang sejatinya, justru ditinggal oleh sistem pendidikan di Indonesia.

Kita lebih ingin, anak kita menjadi siswa pandai yang nantinya mampu menjadi dokter, ataukah menjadi polisi yang jujur? Pilihan untuk menjadi dokter atau polisi, ada pada minat dan potensi anak. Sementara sistem pendidikan, semestinya mengelola agar si anak, lebih menjadi dokter yang jujur, ketimbang menjadi dokter yang suka bermain dengan pabrik obat dalam memberi resep ke pasien. Atau pendidikan mestinya, mengarahkan, agar siswanya kelak, menjadi polisi yang jujur, ketimbang menjadi polisi yang gemar bermain kriminalisasi.

Karenanya, menurut saya, pendidikan adalah sistem pewarisan nilai. Pendidikan lebih konsen pada upaya sistemik, untuk mewariskan hal-hal baik kepada siswanya. Sementara mata pelajaran, hanya berperan sebagai tools saja. Tools untuk mengetahui cara untuk hidup. Hidup yang bagaimana? Tentu adalah hidup yang sehat, bahagia, dan berwarna.

Demikianlah. Semoga manfaat ;)

Tetap semangat, Indonesia!

Filed in Pendidikan Indonesia |

One Response to “Masa Depan Pendidikan Indonesia”

  1. edion 03 Dec 2015 at 11:27 am

    Monggo teman-teman yang mau memanfaatkan…. untuk membuat soal dalam jumlah yang banyak….
    http://www.softinsys.com

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply