Dimensi Kecerdasan Anak Indonesia

yuniawan on Dec 4th 2015

Kemarin (3/12) saya mendapatkan email dari salah satu perusahaan asuransi ternama di Indonesia. Gambarnya menarik, dengan tagline kampanye kegiatan belajar bersama 10 ribu anak Indonesia. Yang menarik, di sana anak disuguhi 4 dimensi arena bermain, yang mencerminkan 4 kecerdasan. Sasarannya, tentu bukan serta merta mencerdaskan anak Indonesia, mungkin lebih kepada aksi nyata terhadap dunia pendidikan. Secara bisnis, memang asuransi ini menyediakan program rencana pendidikan, yang sudah barang tentu sejalan dengan orientasi pemasaaran perusahaan.

Kali ini,  saya tertarik dengan pembagian dimensi kecerdasan menurut mereka. Pertama, yakni dimensi Cerdas Alam. Di sana, kemungkinan akan ada wahana yang berhubungan dengan permainan komputer, mesin mekanik, dan beberapa karya yang dihubungkan dengan galeri kebun binatang. Kemudian kedua, ada dimensi Cerdas Kreatif. Kemungkinan akan disediakan media untuk menggambar, membuat kolase, atau diajari teknik sederhana membuat kaos bagi anak.

Ketiga, ada dimensi Cerdas Sosial. Entah mengapa, ini dihubungkan dengan teknik membuat batik, memasak, dan fotografi. Mungkin karena ketiganya, berhubungan dengan unsur budaya, sehingga dianggap satu dimensi dengan bidang sosial. Keempat, ada dimensi Cerdas Aktif. Seperti namanya, sepertinya di sini anak akan diajak untuk berolah raga, karena harus bergerak ke sana ke mari. Akan ada permainan yang menggunakan bola, aneka body chalange, atau mungkin lomba-lomba lintasan yang dibuat menarik. 

Demikiankah, dimensi kecerdasan? ;) Dipersilakan untuk mengulas.

Sepengetahuan saya, sudah ada 8 dimensi kecerdasan, yang tertuang dalam Gardner’s Multiple Intelligences. Di Indonesia, ada beberapa yang memanfaatkan teori ini. Diantaranya, ada yang memvisualisasikannya melalui sekolahnya manusia, gurunya manusia, dan orang tuanya manusia, seperti yang dengan progresif telah ditularkan oleh Bpk. Munif Chatib. Atau ada lagi karya, Bukik Setiawan melalui kreasi tentang Anak Bukan Kertas Kosong. Di sana, karya Gardner dikemas melalui penilaian terhadap perilaku seru anak yang kemudian disandingkan dengan kecerdasan majemuk.

Nah, kemudian karya Gardner, lalu berhasil digubah dengan apik, sehingga tampak berwajah Keindonesiaan. Meski sayang, nama-nama figur yang digunakan, kurang terlalu mencerminkan nama-nama Indonesia, namun itu bukan menjadi suatu kekurangan. Meski saya juga memahami, kelahiran karakter nama-nama, seperti: Rada, Sivisi, Alata, Akso, Geradi, Katanya, Krevi, Anka, juga tak luput dengan kesesuaian kelompok kecerdasan milik Gardner. Saya hanya sedikit membayangkan jika karakter yang dibuat, benar-benar dibuat melekat dengan karakter anak Indonesia, seperti: Buyung, Jono, Butet, Putu, dan kawan-kawan. :D

Nah, dimanakah letak dimensi anak anda? :)

Filed in Pendidikan Indonesia |

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply