Mencari atau Menyongsong Rezeki?

yuniawan on Mar 5th 2012

Beberapa tahun terakhir, saya banyak menjumpai nama mahasiswa yang menyadur dari kata rejeki (Jawa) atau Rezeki (Indonesia-Arab). Namanya sih cukup bervariasi, ada yang bernama Rizky, Rizqy, Riskie, Rizki, Riesky, atau sebutan lain yang senada. Intinya sama. Nama mereka diambil dari ujung kata rezeki, yang bisa berarti uang, harta, makanan, keuntungan, kesempatan, pendapatan, penghidupan, nafkah, atau segala yang diberikan Tuhan untuk memelihara kehidupan kita di dunia ini.

Sebagian besar masyarakat, sudah barang tentu, menafsirkan rezeki ini sebagai uang atau harta benda. Seperti halnya sahutan, “rezeki nomplok“, yang jelas berkonotasi kepada uang ataupun keuntungan harta benda. Anggaplah sangkaan ini sesuai, tentu tidak dapat disalahkan. Mengapa demikian? Karena memang, manusia hidup akan selalu identik dengan usaha-usaha untuk memelihara kehidupannya. Bagaimana kehidupan itu bisa dipelihara? Tentu saja dengan uang, yang karenanya, manusia bisa memiliki kekuatan tukar menukar barang pemuas kebutuhannya. Jadi dalam topik kali ini, rezeki yang akan kita ulas, cenderung bermakna material sebagai uang atau keuntungan harta benda yang kemudian dapat di-uangkan.

Ternyata, Rezeki itu Hidup

Banyak orang menyatakan bahwa rezeki itu adalah rahasia Alloh. Menurut saya, ini juga ada benarnya. Namun berdasarkan pengalaman dan pengamatan, rezeki itu laksana makhluk hidup yang karenanya ia memiliki kerahasiaan fungsi penciptaannya dari Sang Pencipta. Di sini dapat saya katakan, bahwa rezeki itu hidup, bergerak dan bernyawa. Terlebih, ia juga mampu untuk berdialektika sesuka hatinya, selama masih berada di dalam koridor azas penciptaannya.

Agar lebih jelas, mari kita simak kisah berikut. Suatu ketika seorang hamba Alloh, sebut saja bernama Mr. Rimba, suatu ketika entah karena tergerak hatinya atau terkena dampak dari kewajiban agama, ia hendak membelanjakan 2.5% dari rezeki yang baru saja ia peroleh. Karena jumlahnya lumayan besar, Mr. Rimba bermaksud membagi-bagikan uang zakatnya itu pada beberapa orang. Sebagian yang lain, ia ingin bagikan kepada beberapa orang yang sengaja ia cari di jalan raya. Niat pun mulai ditancapkan, dan pada suatu malam Mr. Rimba mulai menyusuri jalanan kota dengan mobil mewahnya.

Di sisi lain, sebut saja, Pak Jo, sedang mengayuh sepeda bututnya menuju ke rumah seorang kerabat. Di belakangnya ia bonceng sang istri yang juga sedang memangku anak Batita-nya. Sesekali, sang istri tampak membetulkan posisi anaknya, agar merasa nyaman dalam dekapan selendangnya. Di lain waktu, ia terlihat menyodorkan botol susu ke mulut anaknya, tatkala anaknya mulai terasa rewel di perjalanan.

Di sebuah perempatan kota, Mr. Rimba dan Pak Jo pun, ditakdirkan untuk bertemu. Sontak Mr. Rimba merasa iba, terketuk hatinya, dan bermaksud menghampiri sepeda pak Jo. Namun karena posisi mobil yang dikemudikan Mr. Rimba kurang menguntungkan, hal ini memaksa Mr. Rimba untuk memutarbalikkan mobilnya terlebih dahulu, sembari menyusul laju sepeda Pak Jo. Jika berhasil menyusul, Mr. Rimba bermaksud untuk menyedekahkan sejumlah uang kepada Pak Jo.

Di sisi lain, di saat yang bersamaan, hujun gerimis mulai turun, dan kemudian Pak Jo berusaha mengayuh sepedanya dengan sedikit lebih cepat. Ia khawatir, jika terkena hujan, maka sang anak yang ada di pangkuan ibunya itu, menjadi terkena sakit. Sedikit demi sedikit, sepeda ia kayuh demikian cepat. Dalam hati Pak Jo, berpikir, ingin segera sampai di rumah kerabatnya, sembari mencari tempat berteduh untuk anaknya.

Sementara Mr. Rimba, merasa kelabakan, karena perkiraan yang dipikirkannya meleset. Meski mobil sudah dipacu lebih cepat dari biasanya, ia tetap kehilangan jejak. Padahal, Pak Jo hanya menggunakan sepeda angin, sementara Mr. Rimba mengendarai mobil bertenaga 2000 cc. Dengn hati gamang, Mr. Rimba coba memacu mobil, sembari membentangkan mata ke setiap sudut jalan raya.

Rupanya masih ada secercah harapan, manakala isteri Mr. Rimba menyahut, bahwa ia melihat sepeda yang dikendarai Pak Jo melintas ke arah pertigaan yang lain. Namun, laju mobil pun terlanjur dipacu lebih kencang, sehingga menyebabkan Mr. Rimba tidak memiliki haluan yang tepat, dan kemudian memaksanya untuk terus melaju dan memutar balik mobilnya di tikungan yang ada di depan.

Sesampainya pada sudut yang dituju, kembali Mr. Rimba dihadapkan pada pilihan. Di depan ada perempatan yang memaksanya untuk memilih kemungkinan arah yang hendak dituju oleh sepeda Pak Jo.  Sembari melintasi perempatan, Mr. Rimba dan sang istri, kembali coba melongok ke arah kiri dan kanan jalan. Sedetik kemudian, Mr. Rimba memutuskan untuk mengambil jalan lurus, dengan harapan, bahwa di tengah jalan, ia kembali akan menyusul laju sepeda Pak Jo.

Namun hingga sampai di ujung jalan, Pak Jo tak jua dapat ditemui. Mr. Rimba dan sang istri pun, kemudian melaju dengan hati duka. Rupanya, mereka sudah terlanjur iba dengan Pak Jo. Sementara uang ratusan ribu yang hendak disedekahkan, masih berada di genggaman tangan Mr. Rimba. Di sudut lain, Pak Jo sedikit tersenyum lega, manakala ia berhasil tiba di rumah salah seorang kerabatnya. Sambil memulai obrolan, Pak Jo pun mengutarakan niatnya kepada sang kerabat, untuk meminjam sejumlah uang. Ia mengaku memerlukan uang itu, untuk keperluan biaya sekolah anak tertuanya. Sejurus kemudian, sang kerabat mengaku bahwa ia pun sedang tak punya uang, dan menyatakan permohonan maafnya, akibat tak bisa membantu kebutuhan Pak Jo.

Sementara itu, dengan hati gundah, Mr. Rimba kembali menuju ke rumah. Di tengah jalan, ia menemukan seorang Ibu tua yang sedang mengayuh sepeda dengan membawa beberapa kotak tempat biasa menjajakan nasi. Secepat kilat, Mr. Rimba memotong laju sepeda sang Ibu, dan kemudian menyodorkan sejumlah uang yang tadinya hendak ia berikan kepada Pak Jo. Sang ibu pun tersenyum, terkejut dan secara reflek meneriakkan nama Tuhan, sembari menerima beberapa lembar uang dari tangan Mr. Rimba.

Mr, Rimba pun tersenyum, ia sempat merasa lega, karena mampu membuat sang Ibu berbahagia. Ia merasa berharga, karena mampu menolong sesama. Namun  sesampainya di rumah, tetap saja, hatinya gundah dan gamang. Di kelopak matanya, masih terngiang laju sepeda Pak Jo, dan untaian tangan istrinya yang sedang menyodorkan botol susu ke mulut anaknya.

Nah, apakah pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah tersebut?

Dari contoh kisah tersebut, dapat saya asumsikan, bahwa rezeki, yang dalam hal ini berada di tangah Mr. Rimba memiliki kekuatan dan kebebasan tertentu. Pertama; ia berhasil mempengaruhi dan menggerakkan hati Mr. Rimba untuk menyedekahkannya kepada orang lain. Kedua; ia dapat dengan mudah menjatuhkan pilihan kepada Ibu penjual nasi, ketimbang kepada Pak Jo.

Di sisi lain, saat itu pak Jo terbukti sangat membutuhkan rezeki, hingga kemudian bergegas menuju rumah kerabatnya, ia tak sadar bahwa sebenarnya ia juga tengah dikejar oleh rezeki. Hanya saja, Pak Jo seakan lari dan tak segera sadar untuk menyongsong rezeki yang sedari tadi membuntutinya. Kayuhan sepeda yang dalam persepsi Pak Jo, segera menghantarkannya kepada rezeki, melalui tangan kerabatnya, namun justru membuatnya menjauh dari rezeki yang tatkala itu juga tengah mengejarnya melalui tangan Mr. Rimba.

Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa Pak Jo memang terlihat sedang mencari rezeki, melalui ikhtiar menuju rumah kerabatnya. Namun di saat bersamaan, rupanya Pak Jo belum menggerakkan hatinya dan seluruh kepercayaannya kepada Sang Pencipta rezeki, kepada sang penguasa rezeki, bagi sang Raja kekayaan. Rupanya, pak Jo belum menyiapkan seluruh dirinya, jiwa raganya, untuk menyongsong rezeki.

Sementara sang Ibu penjual nasi, bisa jadi ia bukan dalam rangka untuk mencari rezeki. Saat itu, mungkin ia hanya sekedar dalam perjalanan pulang menuju ke rumahnya, sepulang dari kegiatan rutin menjajakan nasi bungkus. Namun, besar kemungkinan, sedari tadi pagi, si Ibu tidak berniat untuk mencari rezeki. Lebih dari itu. Ia telah fokus, menyatukan potensi, tenaga, pikiran dan niatnya untuk menyongsong rezeki yang memang telah ditebarkan oleh Alloh di seluruh muka bumi. Meski malam itu, ia tidak sedang dalam perjalanan mencari rezeki, namun kesatuan pikiran dan hatinya telah menghantarkannya untuk menyongsong rezeki.

Kesatuan, keyakinan, kesantunan dan kepasrahan kepada Sang Penguasa rezeki, telah mendekatkannya dengan ujung-ujung tangan rezeki. Ketidaksengajaan bertemu dengan Mr. Rimba di salah satu sudut kota, menandakan akan munculnya medan magnet bagi sang Ibu menuju rezekinya. Dengan kekuatan hatinya, ia telah berhasil menyongsong rezeki, yang mungkin saja menurut hati Mr. Rimba adalah hak dari Pak Jo. Namun kekuatan rezeki, ternyata mampu memutar segalanya, sejalan dengan lintasan yang senada dengan gerak dan ritmenya.

Hal ini mengapa, kemudian banyak orang menyatakan bahwa rezeki itu rahasia Alloh. “Yo wis, paling iku durung rejekine,!” begitu gumam Mr. Rimba tentang penyesalannya kepada laju sepeda Pak Jo. Sementara bagi sang Ibu penjual nasi bungkus, mungkin ia senantiasa hanya bisa bersyukur atas panjatan hatinya yang senantiasa didengar oleh sang penguasa rezeki.

Begitulah rezeki, butuh disongsong, dan bukan sekedar untuk dicari. Ia mungkin akan bertingkah, seperti halnya judul film lama,”Kejar daku kau kutangkap!” :)

Filed in Ujung Telaga |

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply