Sekedar Renungan tentang Perlakuan

yuniawan on Dec 27th 2014

Ternyata, sudah sekian lama gak nyentuh blog. Ini merupakan tulisan kedua di tahun 2014 ini, setelah sepuluh bulan yang lalu “terpaksa” menulis tentang letusan gunung Kelud yang hebohnya sampai di Surabaya :) Sayang banget kan, jika peristiwa bersejarah di Surabaya tidak didokumentasikan dengan bijak? Eh..baik :D

Tulisan kedua di tahun ini, berujung pada telaga. Iya, itu sesuai dengan kategori dari tulisan ini yang masuk ke dalam rubrik Ujung Telaga. Mengapa demikian? Kira-kira dulu, dimaksudkan untuk mengumpulkan kisah-kisah yang memiliki hikmah tertentu, dan sekiranya pantas untuk direnungkan :D hehehe :D Tentu saja, itu ditujukan untuk meningkatkan kualitas diri ;) Untuk apa? Iya, tentu saja agar hidup kita menjadi kian manfaat, dan bisa menjadi hamba Alloh SWT yang kian bisa mengoptimalkan bekal dari proses penciptaan yang telah dianugerahkan kepada diri kita. Mengapa telaga? Bayangan saya, air telaga itu jika dibasuhkan ke muka, maka akan menyegarkan. Itu saja :) Iya, sesederhana itu ;) Salah satu contohnya, ada di tulisan ini ;)

Peristiwa ringan, saya peroleh di hari ini, ketika kita harus “patuh” untuk memenuhi permintaan mas Fathi, yang ingin agar liburannya “memiliki cerita”. Artinya, mas Fathi menginginkan agar ia bisa diajak liburan ke tempat yang “asyik” - demikian istilahnya- sebelum tanggal 5 Januari 2015. Mengapa demikian? Itu agar mas Fathi, kelak saat ia sudah masuk sekolah lagi, mampu untuk memenuhi LKS-nya, dengan untaian kisah berlibur yang “asyik”. Padahal, sebelumnya, sudah kami ajak untuk pergi ke Probolinggo dan Bangkalan, meski tidak untuk berlibur. Menurut hemat saya, dari ajang bepergian ke kedua kota tersebut, mas Fathi sudah dapat mengarang cerita liburan yang mengesankan (baca:asyik,red.).

Bahkan, kami juga menyarankan agar mas Fathi menceritakan tentang kisah seru kebanjiran, saat malam Jumat (18/12) baru lalu. Sepanjang sejarah, sekitar tujuh tahun berdiam di rumah ini, air belum pernah masuk hingga ke teras. Namun malam Jumat seru baru lalu, bahkan air sudah masuk ke dalam garasi rumah. Padahal, itu berjarak sekitar 0.5 meter dari dasar jalan. Banyak hal, yang semestinya bisa dijadikan kisah bagi mas Fathi, namun hal itu ditolak mentah-mentah :D hehehe. Mulai dari, Kamis pagi yang bermain di rumah sepupunya, lalu Kamis siang ada sepupu lain yang bermain ke rumah. Hingga sepupu yang lain, datang ke rumah untuk “mengungsi” akibat rumahnya yang selemparan batu dengan kami, kebanjiran hingga masuk ke dalam kamar. Sementara seperti biasa, lampu milik PLN, beberapa kali wafat, dan kemudian hidup lagi :( Singkat kata, hujan demikian deras pada hari itu. Sekitar 3 jam di sekitar rumah kami, diguyur hujan deras. Sementara di sisi lain, air laut keburu pasang :( Faktor non teknis lain, kini di area belakang perumahan kami, telah berdiri megah, real estate yang gemar melakukan reklamasi pantai. Lengkap sudah ceritanya ;)

Namun sekali lagi, mas Fathi tetap meminta untuk pergi berlibur ke tempat rekreasi. Akhirnya, kami meluncur ke Taman Safari Prigen, sebagai alternatif rekreasi yang tidak memerlukan acara menginap ;) Inti renungan, terceletuk ketika kami sekeluarga akan menonton pertunjukan Lumba-lumba, sekitar jam 1 siang. Tiba-tiba, entah bagaimana kisahnya, seorang Bapak paruh baya yang sedang menggendong anak cewe, dengan ceroboh menumpahkan ice cream yang sedari tadi menjadi jajanan si anak. Es tak bertuan itu pun, tumpah, mengenai sebagian wajah Adik Zizi, dan tentu saja menerpa tas dan pakaian si Bunda. Sesaat saya sempat rada emosi, namun saya tiba-tiba melihat itu sebagai sesuatu yang tak disengaja. Si Bapak pun, sudah menyatakan permintaan maaf, dan menyodorkan tisu kepada kami.

Dalam hati, saya pun berusaha memaafkan. Sementara Zizi terlihat shock, kami berusaha menenangkannya. Nah, renungan kali ini tertuju pada perlakuan yang meski tidak sengaja, menimpa kami. Saya berusaha terus melakukan instrospeksi di dalam hati dan pikiran. Di sisi lain, jika tetap merasa tidak berhasil menemukan kesalahan yang mungkin pernah kita lakukan ke orang lain, maka saya berpikir, mungkin ini merupakan salah satu media untuk diajak bersabar. Mungkin dengan jalan kejadian kecil itu, Alloh SWT ingin menyampaikan pesan kecil. Bahwa si Bapak tadi juga melakukannya, meski secara tidak sengaja, akibat dari rasa sayang yang diperuntukkan buat si anak yang ia gendong. Mungkin, akibat rasa sayang kepada anak, saya sekeluarga pernah secara tidak sengaja menyinggung atau melukai perasaan atau pemikiran orang lain. Setidaknya, mungkin kami telah mendeskriditkan sosok anak lain, akibat terlalu memiliki perasaan sayang kepada anak kami. Wallahualam

Taman Safari Prigen

Kisah pun berlanjut, ketika hujan turun. Dengan demikian, kami sempatkan untuk berteduh sembari menunaikan ritual makan siang. Setelah sempat berusaha melanjutkan perjalanan, akhirnya kami memutuskan untuk beranjak pulang, akibat hujan yang turun dengan lebatnya. Saat saya menuju ke sebuah stand souvenir untuk membeli payung, secara tidak sengaja, uang saya terjatuh, dan kemudian diingatkan oleh seorang Bapak. Saya belum sempat berterima kasih, karena beliau sudah pindah tempat, sementara saya, harus segera beranjak ke kasir.

Di hadapan kasir, Bapak muda di depan saya, kebetulan membeli banyak barang. Sepertinya, ia membelinya sebagai buah tangan. Saya pun, bersiap mengambil antrian tepat di belakang Bapak muda tadi. Sembari menunggu, saya sempat melihat seorang gadis muda, sedang memilah dan memilih bandana, yang menurut dugaan saya, ia sedang memilih dan tidak sedang dalam antrian. Si Bapak muda itu pun, kian menambah kejengkelan saya, ketika ia membayarnya dengan credit card, yang tentunya, membuat proses transaksi di kasir bertambah lama.

Di sisi lain, keluarga saya menunggu kedatangan payung, sambil berjibaku dengan tampesan air hujan di teras toko :( Sesaat sebelum transaksi si Bapak muda selesai, tiba-tiba ada seorang Ibu yang berusia sekitar 50 tahunan, menyodorkan beberapa jas hujan, dan menaruhnya di atas meja kasir. Tepat di samping sisi Bapak muda tadi. Sementara si gadis, mulai ikut merapat di sisi kanan Bapak muda. Sekonyong-konyong, kehadiran mereka berdua, membuat antrian saya tidak ada gunanya ;( Sementara saya sempat melirik, ada 1-2 orang yang tadinya berdiri di belakang saya, tiba-tiba menghilang dari pandangan mata :D hehehe

Akibat ulah si ibu dan si emba gadis, hampir-hampir saja saya melakukan aksi protes. Tentu saja, akibat kelakukan mereka berdua yang secara visual terlihat bersih dan berpendidikan, namun tidak mengindahkan budaya antri :( Namun, tiba-tiba saya kok jadi sabar ya? Sehingga, saya membiarkan si ibu tadi melakukan transaksi di kasir. Lalu, melihat petugas kasir melayani si emba gadis, meski saya sudah sedikit menyela dengan berkata,”Mbak payung ini satu!” “Iya pak sebentar,” begitu ujar si Kasir ringan, sambil mendahulukan transaksi bandana si emba gadis.

Sejurus kemudian, saya membiarkan semua terjadi, ketika melihat petugas Kasir ternyata sedang hamil. Saya pun terdiam, dan tiba-tiba saja, dapat memaklumi atas semua yang terjadi. Wajah pun,  berubah menjadi ramah, manakala melakukan pembayaran, meski sudah disela oleh kehadiran 2 orang wanita tadi. Saya pun terkejut, manakala keluar dari pintu toko, melihat kenyataan bahwa ternyata si Ibu pembeli jas hujan yang menyerobot tadi, adalah isteri dari Bapak paruh baya yang tadi sudah mengingatkan tentang uang saya yang terjatuh di lantai toko :)

Dengan demikian, saya seakan baru saja diberitahu, bahwa ucapan terima kasih kepada Bapak pengingat soal uang jatuh tadi, dapat diakumulasikan melalui pemberian fasilitas kepada isterinya dari saya, untuk disegerakan transaksinya di kasir. Kejadian tak berhenti di situ. Ketika saya mulai membuka payung baru, dan mencobanya di bawah guyuran hujan, tiba-tiba saja, payung pun berbalik dan membentuk seperti mangkok yang menengadah ke atas. “Wah ini payung baru, dan harganya pun, tidak murah (maklum, belinya di toko souvenir),” begitu gumam saya dalam hati.

Akhirnya saya bergegas kembali ke dalam toko. Dan alhamdulillah, si pelayan toko masih mengenali saya, sembari mencoba payung dengan membukanya di dalam toko. “Nggak rusak gini lho pak, payungnya bisa ini!?”, demikian ujar si emba pelayan toko. Saya pun, tetap meminta tukar dengan barang yang lain, dan Alhamdulillah, si emba menyetujuinya, tanpa perlu perdebatan yang panjang. Tak lupa, saya pun, mengucapkan terima kasih, dan kembali menghampiri keluarga di sudut samping toko.

Subhanolloh… Saya pun merenung, atas semua perlakuan yang kami terima, dan kembali merenung, atas perlakuan yang hampir saya berikan untuk orang lain. Sembari menggendong anak, didera arus kecil air, saya berjalan menuju parkir mobil. Derasnya hujan, mengajak saya untuk merenung, bahwa segala perlakuan yang kita terima, hendaknya dapat kita terima dengan hati yang ikhlas. Bagaimanapun juga, Alloh SWT tetap akan memiliki rahasia berupa perlakuan-Nya yang akan menyentuh kelapangan hati kita nanti. Jika kita bisa menyikapinya dengan bijak, maka dapat dipastikan bahwa perlakuan terbaik dari seluruh alam semesta, akan menghampiri kita dan keluarga kita.

Bagaimanapun juga, kebenaran itu hanya milik Alloh SWT, dan sepertinya kita tidak berhak untuk memberikan vonis terhadap perlakuan apapun itu, yang mungkin menimpa kita. Sementara di sisi lain, nilai baik dan buruk, tetap menjadi milik dan kuasa Alloh SWT. Melalui kesabaran dan keikhlasan, kita berharap akan mendapat lindungan dari Sang Penguasa Langit, dan mendapat keberkahan dari-Nya.

Demikian, sekedar renungan tentang perlakuan. Selamat malam. Semoga bermanfaat. aamin yra :)

Filed in Ujung Telaga |

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply