“Orang Teknik” Versus “Orang Sosial”

yuniawan on Apr 20th 2015

Anekdot tentang keberadaan “orang teknik” dan “orang sosial” tidak dapat dipungkiri, telah mendekap dimensi asumsi masyarakat. Sebutan “orang teknik”, melekat kepada mereka yang oleh Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012, tergolong pada rumpun ilmu alam. Sementara “orang sosial”, adalah sebutan bagi mereka yang mengenyam bidang ilmu-ilmu sosial. Saat duduk di bangku SMA, para remaja sering membedakannya dengan sebutan “anak IPA” atau “anak IPS”.

Perlu kerja keras secara mental maupun material, bagi mereka “anak IPS” agar bisa lolos seleksi untuk kuliah di jurusan favorit. Mengapa? Masyarakat awam sudah terlanjur mengartikan bahwa “anak IPA” berpotensi memiliki masa depan yang lebih cerah. Bisa memilih kuliah di jurusan mana saja. Dengan demikian, kebanyakan wali murid, cenderung “memaksa” putera-puterinya agar masuk di kelas IPA. Meski nanti, merencanakan akan kuliah di Fakultas Ekonomi misalnya, para wali murid tetap berkeyakinan bahwa peluang “anak IPA” akan lebih besar jika dibandingkan dengan “anak IPS”. Kala itu, menjadi “anak IPA”, seakan menjadi pembuktian, akan keberhasilan menjadi “pandai” di bangku sekolah.

Walhasil…., selepas lulus SMA, “anak IPS” terkesan harus berjuang lebih keras. Selain harus bertarung dengan sesama “anak IPS”, mereka juga harus bertarung dengan “anak IPA” yang sedari awal justeru berencana untuk kuliah pada studi ilmu-ilmu sosial. Sementara “anak IPS”, tentu tidak dianjurkan untuk mendaftarkan diri pada jurusan IPA seperti Kedokteran atau Fakultas Teknik.

Menginjak dunia kerja, kemudian lahir dikotomi baru tentang “orang teknik” dan “orang sosial”. Mungkin ini karena, mayoritas “anak IPA” kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Teknik. Sementara yang disebut “orang sosial” adalah lulusan dari Fakultas Ekonomi, FISIP, Hukum, Ilmu Budaya, Psikologi, atau berasal dari Prodi lain yang serumpun. Yang menarik, entah mengapa “anak Kedokteran” dan mereka yang kuliah di jurusan Matematika-IPA, seakan tidak termasuk dalam sebutan “orang teknik” ini. Lalu, kemudian muncul sebutan baru, sebagai “orang eksak” atau “orang IPA”. Meski jika ditelisik, mereka yang kuliah di jurusan ilmu dasar, seperti MIPA, sebenarnya juga menghadapi problem mental yang sama. Di kalangan “orang teknik” sendiri, jurusan MIPA masih dipandang berada di kasta terendah. Belum bisa disandingkan dalam satu meja, dengan jurusan Teknik Sipil, Teknik Elektro, Teknik Informatika, Teknik Mesin, atau yang lain.

Dalam dunia kerja, “orang teknik” sering dianggap mampu berpikir sistematis, fokus dan jika berbicara cenderung “to the point”. Sementara “orang sosial” dipandang terlalu berbelit-belit, dan banyak bicara. Pandai beretorika, namun lemah di tataran implementasi. “Oh…pantesan, dia bukan orang teknik. Bikin proposal, jadi bisa mengarang indah seperti ini! Tapi isinya, tidak sistematis,” demikian ungkapan yang sering dijumpai di dunia kerja. Singkat kata, “orang teknik” dan “orang eksak” dipandang memiliki stratifikasi yang lebih tinggi, ketimbang “orang sosial”.

Saya berasumsi, hal ini terjadi sebagai buah kedigdayaan presiden pertama RI, Soekarno, dengan kuliah mengambil jurusan teknik sipil pada tahun 1921. Puncaknya, Soekarno berhasil meraih gelar Insinyur, pada tahun 1926 dari kampus Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang sekarang dikenal sebagai ITB. Sehingga dengan demikian, menjadi “orang teknik” seakan sebagai capaian puncak belajar di Perguruan Tinggi. Asumsi ini kian tajam merasuk, manakala Menristek sepanjang masa era Presiden Soeharto, yakni B.J. Habibie, juga telah mampu menjadi “orang teknik” dengan mengenyam pendidikan tinggi di Jerman. Kala itu, menjadi “orang teknik” seakan menjadi pembuktian, akan keberhasilan menjadi “pandai” di bangku kuliah.

Linieritas Bidang Ilmu

Lantas, bagaimana dengan dunia profesional? Dunia keilmuan di Indonesia, nampaknya masih tersangkut masalah mental yang sama, Tak beranjak dari tempat duduknya. Pada suatu proyek penelitian, masih kerap dijumpai kerlingan sebelah mata kepada anggota tim peneliti yang berasal dari rumpun ilmu sosial. Kumpulan “orang teknik” atau “orang eksak” masih kerap dihantui keraguan, akan kebersamaan mereka dalam balutan kerja sama interdisipliner. Amanda Root misalnya, anggota tim penelitian interdisipliner pada Engineering and Physical Sciences Research Councils. Ia mengakui bahwa ilmuwan sosial akan mudah untuk merasa terpinggirkan, saat bekerja sama di antara para ilmuwan fisika.

Lantas, apa itu linieritas? Sejauh mana kita memerlukan linearitas?

Pendapat Prof. Urip Santosa dalam tulisan Nori Agustini (2014) tentang linieritas pendidikan dosen, menyebut tiga level model linieritas. Pertama; yakni model linieritas institusi penyelenggara pendidikan. Dimana jika seseorang kuliah S 1 di Fakultas Ekonomi, maka ia harus kuliah S2 dan S3 di Fakultas Ekonomi pula. Kedua; yaitu model linieritas bidang ilmu. Jika misalnya seseorang kuliah di Jurusan Manajemen, pada Fakultas Ekonomi, maka saat S3, ia masih dapat mengambil keahlian Manajemen Pendidikan pada Fakultas Pendidikan. Ketiga; yakni model linieritas focus interest. Misalnya, ketika seseorang kuliah S1 mengambil skripsi tentang budidaya katuk di fakultas pertanian, dan mengambil tesis berjudul teknologi daun katuk untuk dibuat jamu di S2 Fakultas Farmasi, maka saat kuliah S3, ia dapat mengambil disertasi berjudul penggunaan daun katuk sebagai obat pelangsing dan efek sampingnya, pada Fakultas Kedokteran.

Meski cukup jelas, namun penjelasan tentang linieritas, kemudian dapat berpotensi melahirkan “salah persepsi” bagi banyak kalangan profesional yang tersangkut dengan ranah keilmuan. Bisa dibayangkan dampaknya, manakala pihak yang gagal paham, adalah mereka yang bertindak selaku petugas atau operator implementasi kebijakan tersebut. Sehingga beberapa permasalahan semacam: seorang dosen yang tidak dapat memperoleh angka kredit, tertundanya usulan Guru Besar seseorang, dan beberapa kasus yang lain. Pada intinya, kasus semacam ini muncul, akibat adanya regulasi yang terkait dengan linieritas bidang ilmu.

Kemendikbud sendiri, melalui edaran nomor 696/E.E3/MI/2014 telah mendefinisikan linieritas yang diakui merujuk pada pasa 10, Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012. Rumpun ilmu pengetahuan disebut ada enam, yaitu ilmu agama, ilmu humaniora, ilmu sosial, ilmu alam, ilmu formal, dan ilmu terapan. Jika dicermati, ada semacam pesan “sesuai dengan syarat dan ketentuan berlaku” pada edaran tersebut. Untuk pengajuan Guru Besar misalnya. Seseorang yang pendidikan S1 dan S2 nya berbeda dengan pendidikan S3 nya, tetap dapat diusulkan, jika mampu menunjukkan publikasi internasional dalam bidang ilmu yang serumpun dengan pendidikan akhirnya.

Tentu saja hal semacam ini dapat melahirkan bias, yang pada ujungnya dapat tergantung pada pemahaman operator di tingkat bawah. Di lain sisi, regulasi semacam ini bermaksud meningkatkan spesialisasi dan kualifikasi keilmuan seseorang. Namun di sisi lain, dapat berpotensi memotong perkembangan kajian interdisipliner. Membendung pemikiran holistik yang terkait dengan suatu permasalahan, atau fenomena yang lahir di masyarakat. Beberapa dosen yang kuliah di luar negeri pun, kerap kali belajar pada Fakultas yang berbeda dari tempat ia berasal. Khususnya, pada mereka yang berbasis ilmu-ilmu sosial. Sementara perkembangan di masyarakat, semakin hari, kian memerlukan sentuhan kajian interdisipliner. Perlu kolaborasi interdisipliner.

Interdisipliner

Sambil merujuk pendapat Prof. Sahetapy, Prof. Sulistyowati Irianto misalnya, mengemukakan pemikirannya. Melalui akun sosial media, beliau mengaku sependapat bahwa Mahkamah Konstitusi memang tidak hanya membutuhkan Hakim dengan latar belakang ilmu hukum tata negara saja, tetapi juga Hakim dengan disiplin ilmu yang lain, seperti: Sosiologi dan Antropologi. Menurut Prof. Sulistyowati, hal yang diurus MK adalah soal Konstitusi, dan Konstitusi itu adalah sendi dasar yang mengatur cakupan tata kehidupan bangsa Indonesia yang amat luas.

Contoh lain, penelitian tentang Transportasi pada University of Oxford, terus bergerak dan berkembang. Pada awalnya, penelitian melibatkan ilmu fisika, geografi, dan transportasi itu sendiri. Namun kemudian, ternyata juga mulai melibatkan kajian dalam ilmu matematika, statistik, dan ilmu ekonomi. Padahal, di Indonesia, studi tentang Transportasi, dikenal berada dalam sub rumpun Teknik Sipil dan Perencanaan Tata Ruang. Sama halnya dengan Teknik Asitektur atau Teknik Planologi yang juga dianggap satu rumpun dengan Teknik Sipil.

Namun, seperti dikatakan oleh Clinton Golding (2009), saat ini banyak masalah, fenomena, bahkan konsep, yang sudah demikian kompleks. Dengan demikian, pemahaman dan resolusinya, kemudian kian menolak adanya disiplin ilmu tunggal. Kajian multidisiplin atau interdisipliner, diyakini akan mampu mengembangkan gambaran yang lebih lengkap, ketimbang salah satu sudut pandang disiplin ilmu. Howard Gardner (2006) menyebut hal semacam ini sebagai synthesising mind, dimana kedalaman telaah dibutuhkan untuk menyelidiki isu-isu yang kompleks.

Pada proses identifikasi kasus korban Air Asia QZ8501, ternyata tidak hanya melibatkan kinerja seorang dokter. Tim identifikasi, ternyata juga berasal dari lintas disiplin ilmu, yakni: Kedokteran, Kedokteran Gigi, bahkan Antropologi. Prodi Antropologi yang bernaung di FISIP itu, bahkan memegang peran penting pada pekerjaan yang oleh awam terlanjur ditasbihkan sebagai pekerjaan seorang dokter.

Pada akhirnya, pendidikan pada keduanya diperlukan. Keahlian pada bidang disiplin khusus, sama pentingnya dengan kajian interdisipliner. Sehingga dengan demikian, belajar, menjadi tidak terkotak-kotak, dan menjadi atraktif, manakala menghadapi tantangan yang melampaui disiplin ilmu standar (baca:linier). Dalam hal ini, ilmuwan tetap perlu untuk memahami, mengakui, mengakomodir, dan kemudian berkolaborasi, terkait dengan aneka fenomena yang mempertemukan beberapa disiplin ilmu. Pada akhirnya, lintasan penelitian pun, menjadi tidak rata, sehingga memerlukan pemikiran interdisipliner.

Dengan demikian menjadi penting, untuk dapat memahami, menjadi navigator, dan bekerja sama pada subyek meta pengetahuan, metode, epistemologi, dan pembelajaran yang reflektif dan saling terintegrasi. Saling belajar untuk memberikan sintesis dalam perspektif yang berbeda, guna meningkatkan pemahaman dan jalan keluar terhadap setiap usaha pemecaham masalah. Sehingga demikian, diperlukan strategi dan desain bagi organisasi, institusi pengajaran, dan pemegang kebijakan yang memonitor pengampu bidang ilmu interdisipliner.

Jika hendak jujur, sebenarnya yang diperlukan masyarakat itu sederhana. Yakni solusi atas permasalahan yang menimpa. Kajian atau penelitian, dikerjakan, pada hakekatnya untuk memberi kontribusi terhadap permasalahan atau fenomena yang terjadi di masyarakat. Dengan demikian, semakin lengkap sudut pandang atau kajian yang diberikan, maka akan semakin dekat dengan solusi terbaik pada sebuah permasalahan. Kebenaran, diharapkan dapat menuntut peneliti untuk menuju realitas yang diharapkan. Realitas yang mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat luas. Kontribusi yang menenangkan dan mampu memelihara keberlangsungan hidup manusia, bumi, dan makhluk lain yang hidupnya juga tergantung pada keberlanjutan kehidupan alam.

Lantas, untuk apakah keharusan ber-linieritas? Bukankah, antara liner dan non liner, memiliki peluang yang sama? Bukankah, keberhasilan keduanya dalam mengarungi lintasan tak rata, justeru tergantung pada hasil kerja sama interdisipliner? Masih perlukah memelihara anekdot tentang “orang teknik” versus “orang sosial”? Masihkah mampu berbangga diri terhadap bidang keilmuan personal, sementara rakyat menunggu hasil kolaborasi lintas bidang?

Contoh kecil, sudah sejak lama kampus berhasil menciptakan produk mobil listrik, atau tenaga surya. Meski berhasil memenangkan diri pada beragam ajang kompetisi dunia, namun apakah rakyat sudah menikmatinya? Apakah, produk tersebut telah memuaskan hajad hidup orang banyak? Menurut saya, kuncinya ada pada kolaborasi interdisipliner. Bisa jadi, teknologi yang sudah dirancang sedemikian rupa tersebut, belum bisa terkoneksi dengan rakyat, karena memang belum melibatkan kajian dari bidang ilmu ekonomi, politik, komunikasi, antropologi, psikologi, atau yang lain.

Mari bersama berderap langkah secara bersamaan. Sembari tetap memupuk kajian pada bidang ilmu spesialis, mari terus belajar berpikir secara holistik. Mari, sejenak lupakan ego keilmuan masing-masing. Mari berkolaborasi. Rakyat sudah lelah menunggu. Selamat berkarya!

Filed in Warna Sains |

8 Responses to ““Orang Teknik” Versus “Orang Sosial””

  1. yanion 23 May 2015 at 1:15 pm

    bener bener dahsyat versusnya .. Orang teknik vs Sosial..
    Cakep bener

  2. weldanon 05 Jun 2015 at 10:49 am

    keren nih pembahasan nya, sampe sampe kepala pusing, he
    tapi banyak ilmu yang saya dapat

  3. Rolinon 24 Aug 2015 at 2:00 pm

    Aduh,,, mata saya sampai kabur ya membaca tulisan ini dengan baik karena judulnya saja membuat orang penasaran untuk membaca. Coba setingan hurufnya diperbesar supaya mudah dibaca dan tidak membosankan karena terganggu dengan mata. Analisisnya juga terlalu panjang ya, pasti penulisnya orang sosial? Hahahaa.
    Memang pandangan ini sejak dulu bahwa orang teknis lebih klasifikasi kelas diatas kelas sosial. Tetapi intinya bahwa kedua ilmu dengan semua spesifikasinya sebenarnya sama kelasnya tetapi cuma murid muridnya saja yang beda. Artinya tergantung pada siapa yang menerima apa yang telah diberikan karena tujuan sama yaitu untuk mencapai puncak dari sebuah studi. faktor kelasnya tetap tergantung pada personal. Tapi analisa nakal adalah bahwa orang teknis adalah tukang menciptakan sedangkan orang sosial tukan omong kosong. Hahahaa
    salam

  4. Lombok Komodo Tourson 13 Oct 2015 at 9:32 am

    Menarik untuk dikaji lagi tetapi tulisan anda merupakan sebuah kajian fakta yang terjadi selama sekian dekade hingga saat ini. Tetapi memang kedua ilmu ini harus saling mengisi karena yang satu tukang bual dan yang satu tukan buat. Makanya banyak pakar ilmu sosial sulit mendapatkan anak karena hanya batas pada omong tetapi tidak buat sedangkan ilmu tekhnis banyak anak karena banyak diam dan langsung buat. Salam pendidikan Indonesia

  5. Flores Komodo Dragonon 13 Oct 2015 at 9:38 am

    Great analysis with detail explanation. Senang sekali analisa tentang kedua ilmu tersebut. Saya pikir penjelasanya sudah lengkap. Terimakasih untuk sharingnya. Maju terus pendidikan Indonesia yang tercinta

  6. yuniawanon 02 Dec 2015 at 10:41 pm

    @all….. thx atas smua komen yg dberikan. maaf,jk sdh mbuat mata pembaca rabun, maaf. Smg qt bs lbih bnyk brkontribusi utk kemajuan ummat. salam nusantara :)

  7. Romanon 20 Jan 2016 at 4:43 pm

    Artikel yang menarik, memberikan gambaran nyata dalam kehidupan kita, saya setuju dengan artikel tersebut masih banyak anggapan yang berkembang pada masyarakat awam tentang orang teknik dan orang sosial, padahal pemilihan jurusan ini sangat berpengaruh dengan pilihan kita di masa depan, banyak yang akhirnya melakukan lintas jurusan ketika di perguruan tinggi yang menyebabkan kurangnya kesiapan pada diri siswa. Semoga artikel ini bisa mengubah pandangan masyarakat kita tentang orang teknik dan orang sosial. Semangat berkarya.

  8. Hildaon 18 Apr 2016 at 11:41 am

    Mungkin lebih dipersingkat dan diperjelas isinya sehingga pembaca dengan mudah menangkap maksud dari isi artikel. Tetap semangat berkarya dan berikan prestasi terbaik. :)

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply