Audit Sosial dalam Budaya Korporat

yuniawan on Jun 24th 2012

Berikut contoh hasil audit pada tahap monitoring, yang dilakukan terhadap budaya korporat pada PT. Alay Jablai. Dalam hal ini, PT. Alay Jablai merupakan perusahaan multinasional yang bergerak di bidang produksi minuman segar.

Hasil deteksi gejala yang dapat menciptakan kerenggangan hubungan dalam budaya korporat PT Alay Jablai, sebagai berikut.

I. Deteksi anggapan dan prasangka antar kelompok karyawan

a) Model solidaritas

  • Mayoritas karyawan berasal dari alumni Universitas Airlangga, ada beberapa karyawan yang berasal dari Unibraw, UGM, ITS, Ubaya dan UI
  • Mayoritas karyawan berasal dari suku XYZ, sementara suku-suku yang lain tidak terlalu menonjol dan berbaur dengan sesama suku non-XYZ
  • Suku-suku non-XYZ, cenderung mendukung kelompok suku ABC
  • Direktur perusahaan merupakan aktivis partai politik Merdeka, namun mayoritas karyawan merupakan simpatisan dari partai Rakyat Sejahtera
  • Sebagian besar karyawan dari suku ABC merupakan warga yang bermukim di sekitar pabrik, namun staf manajemen merupakan warga dari kecamatan lain atau bahkan ada yang bermukim di Kota lain
  • Wakil Direktur berasal dari suku XYZ dan terkesan memberikan perlakuan lebih terhadap karyawan dari suku XYZ. Sementara Direktur yang berasal dari suku ABC, bersikap acuh tak acuh, dan lebih mengutamakan peningkatan produksi

b) Basis kepentingan terhadap sumber daya dalam rangka distribusi sumber daya ekonomi dan politik

  • Setiap bulan karyawan mendapat jatah satu kaleng susu kental manis di bawah komando Wakil Direktur, dan jika ada sisanya maka akan diserahkan kepada karyawan dari suku XYZ yang dipandang tidak mampu. Biasanya Direktur memberi alokasi lebih untuk jatah pembelian susu bagi karyawan.
  • Di gudang, telah disediakan 1 dispenser untuk memenuhi kebutuhan air minum dan digunakan secara bersama-sama. Namun sering kali, jika karyawan dari suku XYZ mendapati air minum dalam kondisi habis, bersikap cuek dan tidak mau menggantinya dengan galon air yang baru. Sementara jika suatu saat Wakil Direktur melakukan inspeksi mendadak, maka karyawan dari suku ABC sering mendapat teguran keras.
  • Karyawan yang berasal dari suku KTL terlihat menarik diri dari perseteruan dan memilih untuk membawa botol air minum dari rumah.
  • Petugas kebersihan yang berasal dari suku XYZ dikenal malas, namun beberapa kali saat ditemukan keteledoran, Wakil Direktur langsung menegur Supervisor yang berasal dari suku KTL. Sementara jika petugas ditegur dengan keras oleh Supervisor, maka beberapa hari kemudian sang Supervisor, justru akan dipanggil ke ruang Wakil Direktur akibat dianggap memperlakukan karyawan dengan tidak manusiawi
  • Direktur kerap mengadakan kegiatan selebrasi politik partainya dengan melibatkan massa karyawannya, dan tidak ada satu pun yang berani menolak. Karena disamping itu, para karyawan juga mendapatkan uang transport dan uang makan sebagai kompensasi.

c) Riwayat hubungan sosial antar kelompok

  • Sering terjadi perselisihan antar karyawan suku XYZ dengan suku yang lain, yang diawali dengan permasalahan kecil
  • Karyawan dari suku XYZ dianggap sewenang-wenang dan mau menang sendiri
  • Tidak pernah terjadi perkelahian secara fisik, karena suku non XYZ bersikap lebih menahan diri dan terkesan mengalah
  • Mayoritas karyawan yang merupakan simpatisan dari partai Rakyat Sejahtera, akan bersikap malas-malasan, jika Wakil Direktur membagikan atribut dari partai Merdeka. Namun jika Direktur sudah turun langsung ke lapangan, maka seluruh karyawan akan bersikap loyal kepada Direktur mereka, meski di luar mereka tetap mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh partai Rakyat Sejahtera.
  • Warga pemukiman sekitar pabrik, merupakan simpatisan dari partai Rakyat Sejahtera

d) Aspek kebijakan

  • Proses mutasi didominasi oleh kebijakan Wakil Direktur
  • Suatu ketika jika Direktur menganggap kebijakan mutasi dari Wakil Direktur dirasa kurang tepat, maka ia dapat dengan mudah mengganti keputusan yang sudah dibuat oleh Wakilnya. Dalam hal ini, Surat Keputusan Wakil Direktur, dapat dianulir dengan seketika oleh Direktur.
  • Pimpinan yang dipilih tidak berbasis asal suku atau agama, tetapi benar-benar berbasis kinerja, meski di sisi lain Wakil Direktur senantiasa berusaha untuk mempromosikan karyawan dari suku XYZ
  • Tidak ada kegiatan seremoni berbasis suku atau agama, kecuali kegiatan kepartaian yang dilaksanakan oleh Direktur
  • Direktur cenderung lebih memilih karyawan yang berasal dari almamaternya, untuk dapat menjalani promosi jabatan

e) Etika dan Bisnis

  • Aturan yang berlaku diawasi langsung oleh Direktur. Jika Wakil Direktur menggagas sebuah aturan baru, maka itu harus sepengetahuan Direktur
  • Relasi bisnis beberapa kali didelegasikan kepada Manajer Marketing, namun tetap harus dengan sepengetahuan Direktur
  • Wakil Direktur lebih pada pengawasan terhadap aktivitas operasional perusahaan agar dapat berjalan dengan baik
  • Direktur sangat menjunjung etika bisnis yang jujur dan bertanggung jawab. Hal ini berdampak pada rendahnya tingkat korupsi di tubuh manajemen

II. Hasil deteksi pranata sosial yang dipergunakan untuk hubungan sosial antar kelompok karyawan

a) Pranata Sosial yang biasa digunakan untuk menyelesaikan konflik

  • Direktur sangat menyukai musik dan mengakomodir karyawan yang piawai bermain musik. Setiap latihan band, akan dibiayai oleh perusahaan. Pada acara selebrasi kepartaian, group band tersebut selalu tampil untuk mengisi sesi hiburan.
  • Direktur menyetujui adanya kegiatan arisan simpan pinjam yang digagas oleh Wakil Direktur. Setiap 6 bulan sekali, akan dilakukan kunjungan ke rumah karyawan yang ditunjuk sebagai tuan rumah. Dalam kunjungan tersebut, Direktur sering hadir secara langsung.
  • Kegiatan open house pasca Idul Fitri, merupakan momentum keakraban bagi seluruh karyawan

b) Pihak ketiga yang dapat menjembatani dua kelompok yang bertikai

  • Pernah suatu ketika seorang sopir yang kebetulan berasal dari suku mayoritas bertindak ugal-ugalan dan menabrak anak dari salah seorang warga di sekitar pabrik. Suku ABC yang juga warga sekitar pabrik, kemudian tersulut emosinya dan bergabung bersama warga untuk memburu sang sopir. Hampir terjadi bentrokan, tatkala sang sopir dilindungi oleh satpam pabrik atas perintah Wakil Direktur. Namun bentrokan dapat dihindari, manakala Komanda Satpam pabrik yang berasal dari suku KTL yang ternyata masih kerabat jauh dari Direktur, coba memberikan pemahaman kepada massa. Ia pun berjanji, akan berbicara dengan Direktur dan memberikan ganti rugi kepada warga yang menderita kerugian, dan memberi sangsi kepada sang sopir.
  • Selebrasi partai Merdeka dan arisan adalah kegiatan-kegiatan yang mampu melibatkan seluruh karyawan. Selain itu ada kegiatan open house Idu Fitri dan kegiatan pemotongan hewan pada saat Idul Adha.

c) Keterkitan antar kelompok dalam arena sosial

  • Beberapa hari setelah hari raya, Direktur mengadakan open house di pabrik bagi seluruh karyawan dan keluarganya
  • Pada saat hari raya Idul Qurban, Direktur juga menggagas pemotongan dan penyaluran hewan kurban yang dilaksanakan di pabrik
  • Setidaknya sekali dalam setahun, perusahaan akan mengadakan kegiatan bakti sosial, khususnya dirancang bagi kepentingan warga di sekitar pabrik
  • Kegiatan peringatan malam 17 Agustus juga kerap mengundang warga sekitar untuk merayakan secara bersama-sama di halaman depan pabrik

III. Hasil diteksi pengaruh kekuasaan dalam politik lokal

a) Penggolongan mayoritas dan minoritas dalam perusahaan

  • Open house hari raya, pemotongan hewan kurban, bakti sosial, arisan karyawan, dan selebrasi kepartaian merupakan kegiatan yang melibatkan lebih dari 2 anggota kelompok karyawan
  • Dari sisi mayoritas asal suku dari para karyawan, beruturut-turut dipenuhi oleh karyawan dari suku XYZ (33%), ABC (22%), KTL (17%), YTY (15%), ABK (8%), dan RXZ (5%)
  • Mayoritas pejabat (low-top manager) perusahaan berasal dari Universitas Airlangga

b) Pendominasian pranata sosial

  • Kelompok almamater Universitas Airlangga banyak memegang jabatan penting
  • Wakil Direktur mendominasi dalam kegiatan operasional perusahaan
  • Manajer Marketing banyak berhubungan baik dengan rekanan perusahaan
  • Direktur menguasai pembuatan tata aturan baru perusahaan, dan proses mutasi pejabat. Sementara untuk mutasi pada level staf, dipegang penuh oleh Wakil Direktur

c) Identifikasi tokoh kunci

  • Ada seorang dari suku XYZ yang dikenal sebagai komandan sopir. Ia sangat berpengaruh di kalangan sopir. Orangnya suka berpesta, dan merupakan tangan kanan dari Wakil Direktur
  • Supervisor dikenal tegas dan disiplin. Ia cukup disegani, kecuali oleh karyawan dari suku XYZ.
  • Komandan satpam sangat disegani oleh seluruh karyawan. Ia pernah menggagalkan upaya pembobolan gudang oleh sekelompok penjahat bersenjata tajam, hanya dengan tangan kosong. Selain itu, ia adalah kerabat jauh dari Direktur.
  • Bendahara perusahaan dikenal tanpa kompromi. Ia hanya patuh pada perintah Direktur, bahkan Wakil Direktur terkadang segan jika harus berurusan dengannya.
  • Manajer Marketing dikenal sebagai sosok yang suka membagi rejeki kepada karyawan. Pemurah dan ramah. Apa yang akan ia perintahkan, selalu dikerjakan oleh setiap karyawan dengan senang hati.
  • Wakil Direktur ditakuti oleh seluruh karyawan. Sikapnya tegas dan temperamental.
  • Direktur berpenampilan sederhana, pendiam, tidak banyak bicara, namun tegas. Dikenal memiliki jiwa sosial yang tinggi.

d) Ketergantungan individu terhadap individu lain dalam pranata sosial

  • Bendahara perusahaan terkesan sosok paling dibutuhkan. Setiap karyawan berusaha untuk bersikap baik kepadanya. Fasilitas kredit lunak perusahaan, ada di bawah kewenangannya.
  • Wakil Direktur merupakan sosok yang sangat dibutuhkan oleh karyawan dari suku XYZ, khususnya jika mereka mengalami permasalahan kerja yang bersinggungan dengan pihak lain
  • Komandan satpam adalah mediator yang terkadang dimanfaatkan oleh beberapa karyawan yang dekat dengannya. Ia dianggap memiliki pandangan yang bijak, dan mampu menyampaikan keluhan karyawan secara langsung kepada Direktur. Ia diharapkan mampu menjadi penyambung lidah rakyat, menampung aspirasi seluruh karyawan PT Alay Jablai.

e) Hubungan dengan kekuasaan formal

  • Wakil Direktur dan Komandan satpam adalah orang sering digunakan Direktur untuk membantu mensukseskan kegiatan kepartaian
  • Direktur merupakan salah satu aktivis dari partai yang berkuasa saat ini di negara Nusantara
  • Manajer marketing adalah orang yang dipercaya oleh Direktur untuk setiap penyelenggaraan kegiatan bakti sosial dan open house idul fitri. Dalam kedua kegiatan tersebut, biasanya ia dibantu oleh Bendahara dan Supervisor. Untuk kegiatan pemotongan hewan qurban, biasanya ia banyak dibantu oleh Komandan Satpam dan Supervisor.
  • Wakil Direktur adalah orang yang dipercaya untuk menggerakkan seluruh roda operasional organisasi dalam sehari-hari
  • Warga pemukiman sekitar pabrik, merupakan simpatisan dari partai Rakyat Sejahtera

f) Model jaringan sosial individu

  • Arena yang melibatkan banyak orang adalah selebrasi kepartaian, open house idul fitri, pemotongan hewan qurban, bakti sosial dan arisan karyawan. Khususnya dalam acara open house, setiap karyawan berbaur dengan penuh nuansa kekeluargaan.
  • Arisan karyawan juga sering digunakan sebagai ajang silaturahmi, untuk mempererat persaudaraan. Terkadang arisan ini juga mengadakan kegiatan sosial bagi keluarga karyawan yang mendapat musibah.
  • Acara selebrasi kepartaian, kerap digunakan sebagai media hiburan dan berpesta bagi karyawan

Hasil analisis terhadap identifikasi

I. Menilai anggapan dan prasangka kelompok

  1. Terdapat setidaknya dua solidaritas kelompok yang menonjol, yakni suku XYZ dan suku  ABC yang didominasi oleh warga sekitar pabrik. Suku XYZ dekat dengan Wakil Direktur, sementara suku ABC juga terlihat dekat dengan Komandan Satpam.
  2. Seluruh karyawan termasuk Wakil Direktur merasa segan terhadap Komandan Satpam, namun Komandan Satpam juga terlihat menghormati kedudukan Wakil Direktur
  3. Sumber daya umum di dalam pabrik, banyak dikuasai oleh suku XYZ akibat kedekatannya dengan Wakil Direktur
  4. Wakil Direktur sering mengeluarkan kebijakan berbau primordial yang menguntungkan suku XYZ
  5. Suku ABC memiliki potensi massa yang kuat, karena didominasi oleh warga lokal yang menghuni lingkungan pemukiman di sekitar wilayah pabrik.

II. Menilai keberadaan pranata sosial

  1. Kegiatan open house mampu dijadikan kegiatan yang berbasis kekeluargaan, dan media untuk saling memaafkan kesalahan. Terlebih, panitia yang terlibat dalam penyelenggaraannya, terdiri dari karyawan lintas agama
  2. Karyawan yang tidak pernah ikut dalam kegiatan arisan, terkesan terpinggirkan secara sosial, karena kegiatan ini juga digunakan sebagai saluran kegiatan sosial bagi karyawan yang mengalami musibah
  3. Direktur telah memanfaatkan pemenuhan kebutuhan hiburan bagi karyawan untuk bersinergi dengan kegiatan kepartaian. Hal ini mengingat, warga sekitar pabrik merupakan basis massa dari parta kompetitor
  4. Karyawan dari suku XYZ telah memanfaatkan kewenangan yang dimiliki oleh Wakil Direktur
  5. Wakil Direktur dan Ketua Satpam merupakan ujung komunikasi antar relasi yang dapat menjaga stabilitas karyawan dalam perusahaan
  6. Koordinasi yang baik antara Manajer Marketing, Supervisor, Bendahara dan Komandan Satpam dapat memperlancar pelaksanaan kegiatan yang bersifat massal yang melibatkan seluruh karyawan
  7. Komandan Satpam sering digunakan oleh perusahaan untuk menjaga hubungan sosial dengan warga sekitar. Mengingat ia juga tinggal tak jauh dari lokasi pabrik.
  8. Manajer marketing, digunakan oleh Direktur untuk menjaga hubungan baik dengan pihak eksternal perusahaan

III. Menilai kekuasaan dan kekuatan sosial

  1. Kelompok karyawan dari suku XYZ terlihat menguasai beberapa sumber daya umum milik perusahaan
  2. Wakil Direktur berusaha melakukan internalisasi hubungan primordialnya bersama suku XYZ ke dalam kebijakan perusahaan
  3. Arisan karyawan menjadi jaringan sosial antar karyawan yang dapat terus dikembangkan
  4. Komandan satpam dapat berperan sebagai stabilisator dan penengah konflik. Anggota karyawan suku non-XYZ merasa tergantung terhadap perannya dalam menyalurkan aspirasi karyawan

IV. Kesimpulan (dipilih berdasarkan analisis terhadap variabel yang berpotensi menghasikan konflik)

  1. Untuk variabel Anggapan dan Prasangka antar kelompok, kondisinya potensial untuk menjadi konflik horisontal. Bisa meledak jika karyawan dari suku XYZ terus mengembangkan sikap semena-mena yang biasa dilakukan, terlebih jika berkenaan dengan isu-isu berbau SARA.
  2. Untuk variabel Pranata Sosial yang sering digunakan untuk berhubungan antar kelompok, perusahaan terlihat cukup memiliki arena yang dapat dimanfaatkan untuk membuka pemahaman dan juga berpotensi untuk membantu dalam mengantisipasi konflik yang hendak berkembang. Selain itu, kegiatan yang melibatkan massa, dapat dimanfaatkan sebagai media untuk menekan konflik.
  3. Pada variabel Pengaruh Kekuasaan, kelompok suku XYZ dengan pengetahuan kelompoknya dapat terus mengembangkan kekuasaan. Hal ini dapat dinetralisir, ketika Komandan Satpam mampu memainkan perannya secara sosial. Selain itu, kecenderungan Direktur untuk menempatkan pejabat berdasarkan kelompok almamaternya, akan cukup menetralisir masuknya dominasi kekuasaan suku XYZ melalui wewenang Wakil Direktur.

Download materi

Filed in Warna Sains |

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply