Budaya Korporat itu, Seperti Pornografi

yuniawan on Mar 18th 2012

Pertanyaan seputar “Apa itu budaya korporat?” kembali terungkap pada semester ini. Meski berkali-kali coba diutarakan, namun pertanyaan yang berusaha menyingkap tentang “budaya korporat” tetap saja perlu untuk disampaikan. Seperti halnya dikatakan oleh Peter Klein (2007), ia menganggap “budaya korporat” itu seperti halnya pornografi. “Sulit untuk didefinisikan. Namun kemungkinannya mudah bagi kita, untuk bisa mengenalinya!”, demikian tukas Klein.

Meski sudah teramat banyak perusahaan yang bertebaran di seluruh dunia, namun “budaya korporat“, tetap saja akan selalu mampu menampilkan kesan unik bagi masing-masing korporasi. Oleh karena itu, “budaya korporat” ini terkesan mengakar dan akan sulit untuk diubah. Rata-rata agresifitasnya akan berpengaruh pada kinerja jangka panjang.

Simak saja definisi yang dikeluarkan oleh Business Dictionary yang mengaku sudah mampu mendefinisikan lebih dari 20.000 istilah. Mereka menjelaskan “Budaya Korporat” sebagai nilai-nilai dan perilaku yang unik, yang berkontribusi terhadap lingkungan sosial dan psikologis dari sebuah organisasi. Meski “budaya” itu sendiri tampak belum disentuh oleh definisi ini, “budaya korporat” disebut sebagai asumsi keseluruhan dari masa lalu dan masa kini organisasi. Termasuk di dalamnya: pengalaman, filsafat, dan nilai-nilai yang menjaga keutuhannya. Kesemuanya itu dinyatakan dalam diri citra, inner, interaksinya dengan dunia luar, serta “tempat” bagi harapan mereka saat berbicara tentang masa depan.

Terlepas dari aneka definisi yang sudah dihantarkan oleh para ahli, Peter Klein (2007) kembali berteriak lantang. Menurutnya, daripada kita terus mencoba untuk mendefinisikannya, maka lebih baik memperlakukan budaya korporat sebagai sebuah konsep laten yang jika kita ingin melihat, maka carilah dari dampak atau efek yang ditimbulkannya. Sembari menyinggung apa yang ia sebut sebagai “Forrest Gump approach“, Klein menyatakan bahwa, “Budaya korporat adalah apa yang budaya korporat lakukan!”. Namun Klein juga mengakui, bahwa budaya itu sendiri, adalah sebuah black box. Dalam perusahaan, ia coba mengidentifikasi efeknya melalui kebijakan dan perilaku yang diwariskan.

Sementara Business Dictionary, kembali menyatakan bahwa budaya korporat suatu perusahaan, dapat dilihat melalui segala yang tersirat maupun yang tersurat dalam sebuah “kontrak”, hingga kemudian dianggap syah dari waktu ke waktu. Budaya korporat, juga dapat dilihat tatkala suatu perusahaan menunjukkan “cara mereka” dalam memperlakukan bisnis, karyawan, pelanggan, serta masyarakat luas.

Selain itu, budaya korporat juga dapat diteropong melalui “model kebebasan” yang diterapkan oleh suatu perusahaan. Mulai dari hal-hal yang diperbolehkan maupun tidak, menyangkut pengambilan keputusan, pengembangan ide-ide baru, serta bagaimana respon mereka dalam menyikapi ekspresi pribadi. Mungkin, ini juga masih akan berhubungan dengan “arus kekuasaan” atau arus informasi yang kemudian dapat saling bersinggungan. Dilalui berdasarkan konsep hirarki atau tidak? Dst.

Hal lain yang bisa dicermati dari budaya korporat, ketika kita dapat melihat seberapa jauh komitmen karyawan terhadap tujuan kolektif atau bahkan tujuan yang sudah dicanangkan oleh perusahaan itu sendiri. Yang nantinya, diharapkan dapat mempengaruhi kinerja, sehingga mampu meningkatkan produktivitas organisasi. Bahkan jika sudah melekat, maka hal ini juga dapat memberikan semacam SOP atau pedoman layanan pelanggan. Tak hanya itu, jika kondisi ini dipertahankan, dapat pula digunakan untuk meningkatkan kualitas dan keamanan produk.

Satu lagi. Konon, budaya korporat juga dapat diketahui dari bagaimana suatu perusahaan itu melakukan proses produksi dan menerapkan metode pemasarannya. Bahkan juga dapat diendus, melalui praktik-praktik atau strategi perusahaan, yaitu pada saat mereka mengelola iklan atau ketika mengembangkan produk baru.

*) Materi Budaya Korporat 13 Maret 2012 dapat diambil di sini

    Materi Budaya Korporat 20 Maret 2012 dapat diunduh di sini

Filed in Warna Sains |

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply